
Membangun Kedaulatan Ekonomi Melalui Partisipasi Generasi Muda
Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara mengajak anak-anak muda untuk menjadi motor penggerak perubahan di kawasan transmigrasi, bukan hanya jadi penonton. Ia menantang para mahasiswa menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul untuk terlibat langsung dalam pembangunan wilayah transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang modern dan berkelanjutan.
Pernyataan tersebut disampaikan Iftitah saat mengisi kuliah umum di hadapan lebih dari 1.000 mahasiswa dan mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jawa Tengah, Jumat (31/10/2025). Ia menjelaskan bahwa kehadiran generasi muda sangat penting dalam membangun kawasan transmigrasi. "Saya sampaikan, kehadiran saya di kuliah umum ini untuk memastikan partisipasi generasi muda dalam membangun kawasan transmigrasi. Tantangan terbesarnya (adalah) mengubah persepsi masyarakat, bahwa transmigrasi hari ini bukan hanya sekadar perpindahan penduduk," ujar Iftitah.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan perihal program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) sebagai bentuk nyata distribusi SDM unggul ke 154 kawasan transmigrasi. Dalam rangka transformasi transmigrasi, Kementerian Transmigrasi (Kementrans) telah mengirim 2.000 peneliti yang terdiri dari mahasiswa, dosen, hingga guru besar dari tujuh perguruan tinggi unggulan untuk melakukan riset dan pemetaan potensi ekonomi kawasan transmigrasi.
Iftitah menegaskan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi di atas delapan persen. "Jadi, supaya masyarakat lokal bisa terserap oleh lapangan kerja, kita juga harus melakukan pemberdayaan terhadap mereka. Mereka mendapatkan pendapatan sehingga pertumbuhan ekonominya akan inklusif dan berkelanjutan," ucapnya.
Empat Kawasan Prioritas
Iftitah menyebutkan empat kawasan transmigrasi yang menjadi fokus utama, yakni Batam, Rempang, dan Galang (Barelang) di Kepulauan Riau; Salor di Merauke, Papua Selatan; Selaparang, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB); serta Kalukku, Mamuju, Sulawesi Barat. "Buktinya, seperti yang tadi saya tunjukkan di Rempang. Saya sudah sampaikan kepada Wakil Wali Kota, ayo kita sepakat, tidak boleh lagi ada yang mengusir, menggeser, dan menggusur masyarakat," ungkapnya.
“Masyarakat biarkan saja tetap di tempatnya. Kita buat satu kawasan baru. Kalau mereka tertarik, pasti mereka akan mau pindah dengan sendirinya. Jadi, itu tantangannya. Kita ingin masyarakat tidak lagi menjadi korban pembangunan,” lanjut Iftitah.
Dukungan dari Perguruan Tinggi
Dalam kesempatan yang sama, Rektor Undip Suharnomo menyatakan dukungannya terhadap gagasan transformasi transmigrasi yang disampaikan Iftitah. Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan misi akademik Undip untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional. “Kami mendukung ide transformasi transmigrasi. Kami termasuk bagian dari Tim Ekspedisi Patriot yang menerjunkan 275 peneliti di 52 wilayah di 13 provinsi. Kami ingin mengidentifikasi sumber-sumber yang bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ujar Suharnomo.
Ia menekankan bahwa dosen, alumni, dan mahasiswa Undip siap berkolaborasi dengan Kementrans dalam riset, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat di berbagai kawasan transmigrasi. Kementrans berharap, kolaborasi dengan perguruan tinggi dapat mempercepat transformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkeadilan dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan semangat pemerataan pembangunan dari Sabang hingga Merauke.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar