
Minggu di Bulan November. Setelah memiliki tiga anak, ada hal yang membuat aku khawatir dan waspada, terutama ketika salah satu dari mereka sakit. Jika yang satu mulai batuk dan pilek, maka ada risiko menularkan ke yang lain. Jika satu anak demam, biasanya anak nomor dua dan tiga ikut demam juga. Jika anak nomor dua atau tiga yang duluan sakit, maka kembarannya akan mengikuti. Proses ini terus berlanjut. Apalagi saat ini musim hujan yang mulai dirasakan. Terik, tiba-tiba hujan. Terik lalu gerimis, hujan lebat, dan seterusnya. Batuk dan flu melanda di mana-mana.
Maka aku lebih memilih tetap memakai masker kala keluar rumah. Selain karena penyakit autoimunku, virus influenza juga ada di mana-mana, terutama di KRL pada jam berangkat dan pulang kerja yang padatnya luar biasa. Aku tak ingin membawa virus. Apalagi anak-anak hanya beraktivitas di dalam rumah. Kecuali anak pertama sudah bersekolah, dan dia pun sudah empat hari tidak masuk sekolah.
Minggu ini lagi-lagi aku mendapati hari minggu yang suram. Karena berada di tengah anak-anak yang sedang sakit. Si kakak sudah empat hari tidak masuk. Mulai dari Selasa, ia izin tidak masuk karena batuk, pilek, demam disertai muntah. Ternyata teman-temannya di sekolah juga banyak yang tidak masuk. Satu kelas anakku memiliki 11 siswa, bu guru mendokumentasikan hanya ada enam siswa yang masuk di hari itu, jika tidak salah hari Kamis. Menunjukkan betapa banyak anak yang sakit dan tidak masuk sekolah. Minggu suram ini dimulai pada hari Kamis, akhirnya aku tidak masuk kerja karena anak demam tinggi dan muntah-muntah. Hari itu kami berobat ke dokter dan diberi beberapa obat karena Dinda dan Nala batuk flu yang tak berhenti. Nala matanya seperti berair karena riwayat kembarannya sakit mata. Kami mendapat beberapa obat, termasuk antibiotik, pereda demam, dan racikan. Obat tetes mata untuk Nala. Kami mematuhi resep dokter dan berharap minggu ini akan tenang, setidaknya tidak batuk flu berat seperti sebelumnya.
Ternyata, hei ternyata.. salah besar. Obat yang diberikan dokter adalah racikan yang memiliki kandungan Acetylsistein untuk batuk, obat ini golongan Mukolitik yang berfungsi mengencerkan dahak kental yang ada di hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Sehingga merangsang mengeluarkan dahak yang masih ada di organ tersebut. Maka reaksinya justru batuk, supaya dahaknya habis dikeluarkan gatal hilang dan dahak pun bersih dikeluarkan. Namun yang terjadi semalaman anak-anak ini tidak tidur. Batuk sahut-menyahut. Tidur sebentar batuknya lebih sering. Siapa yang lebih tidak tidur? Tentu mamanya, karena bulak-balik dimintai minum tiap habis batuk. Begitu terus hingga jelang subuh. Dan tubuhku lemas dan lemah dibuatnya karena tidurku terasa tidak cukup. Untunglah saat itu Sabtu dan esoknya masih hari Minggu. Bisa tidur lebih panjang aku paginya walau sudah di bangun-bangunkan terus oleh si sulung. Tidak tahu ia mama nya habis begadang melayani dua bayi kembar usia tiga tahun. Bedanya bayi ini sudah bisa bilang kalau mau minum atau kalau ada yang sakit.
Masih dengan drama flu. Pagi ini ada anak yang muntah-muntah. Lebih ke batuk namun tidak tahu cara buang dahaknya akhirnya ia muntah. Muntahnya di lantai ruang tengah... mereka tahu bahwa muntah harus ke toilet. Namun tubuh mereka seperti menolak untuk lari sekejap ke toilet. Melainkan di titik mereka berdiri saja mengeluarkan semua. Ya makanan, air keluar semua. Nathan pelakunya.
Sebelumnya aku mengalami hal yang sama: batuk berat, berdahak, dan pilek. Tenggorokan terasa gatal sekali. Namun Alhamdulilah flu itu sudah dilalui, dan kini menyisakan seluruh anggota keluarga lainnya yang flu dan dilanda virus influenza. Pupus lah sudah segala rencanaku menyelesaikan PR urusan TB (data Tuberculosis) di rumah atau menulis jelang Kompasianival. Siapa yang sempat dengan kondisi seperti yang aku rasakan? Jika berhasil membuat tulisan satu saja, luar biasa membanggakan. Karena tiga bocah ini sangat manja dan rewel kala sakit. Ketika mereka selalu membangunkan ku tidur untuk sekedar ambil minum. Belum lagi kalau rewel luar biasa. Hati seperti "Ya Allah lelah sekaliii". Aku juga manusia butuh istirahat. Badanku dan hatiku meronta ingin pergi saja. Karena terlalu penat. Namun saat melihat wajah mereka saat batuk-batuk kesulitan mengeluarkan dahak, wajah memerah, keringat bercucuran karena batuknya. Membuat aku flashback ke wajah saat mereka baru lahir. Wajah yang mungil, merah, lembut yang sangat kusukai sekarang sedang sakit demam dan flu membuatku tak sampai hati lebih memikirkan diri sendiri. Semoga segera sehat dan ceria lagi ya Nak! Bisikku setiap mereka tidur lelap. Berdoa semoga batuk-batuknya reda dulu selagi mereka istirahat.
Mungkin di masa depan posisi kami bergantian. (Semoga Allah Selalu menyehatkan kami) suatu saat ketika aku sakit mungkin akulah akan merepotkan ketiga anakku. Semoga kalian bertiga kelak saling bahu membahu dalam kebaikan keluarga ya anak-anak. Jangan pernah saling tunjuk, saling lempar tugas atau saling perintah ya! Saling kerja sama dan gotong royong, kompak. Dan selalu menjaga nilai dalam kebaikan.
Di Hari Pahlawan 10 November ini, marilah kita mengenang jasa para Pahlawan. Mendoakan para pahlawan yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Berkat mereka kita bisa menikmati buah kemerdekaan: tiada perang di bumi Indonesia tercinta. Walau secara tersirat setiap orang menjadi sosok pahlawan bagi keluarganya masing-masing, dan pahlawan secara fungsi. Ayah menjadi pahlawan dalam mencari nafkah. Ibu menjadi pahlawan bagi anak-anaknya dengan kasih sayang dan pelayanannya. Para pedagang menjadi pahlawan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, Tukang Ojek jadi pahlawan pemenuhan transportasi pelanggan dan lain sebagainya.
Semoga minggu suramku tadi tidak berulang. Kompasianer dan seluruh anggota keluarga diberikan kesehatan. Dear Kompasianer, siapkan sosok yang paling berjasa dalam hidupmu? Sharing di kolom komentar ya!
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar