
Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang Dikembangkan oleh PT Maharaksa Biru Energi Tbk
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) mengumumkan bahwa perusahaan sedang mengerjakan dua proyek besar yang dikenal dengan nama Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE). Total investasi yang dialokasikan untuk kedua proyek tersebut mencapai sekitar Rp 8 triliun. Kedua proyek ini berlokasi di Jakarta Barat dan Tangerang Selatan, yang merupakan daerah dengan kebutuhan energi listrik tinggi.
Direktur Utama Maharaksa Biru Energi, Bobby Gafur Umar, menjelaskan bahwa realisasi proyek akan dilakukan secara bertahap. Pembebasan lahan, pengajuan izin, hingga studi konsultan akan menjadi fokus utama pada tahun 2026. Sementara itu, pelaksanaan proyek dalam skala besar direncanakan akan dimulai pada tahun 2027.
“Investasi total dari dua proyek ini termasuk biaya finansial dan capex juga mendekati di atas Rp 8 triliun,” ujar Bobby dalam paparan publik OASA secara virtual.
Selain itu, Bobby menambahkan bahwa perusahaan telah mempersiapkan beberapa skema pembiayaan dan strategi pengembangan proyek. Salah satunya melalui kemitraan dengan mitra asal Tiongkok yang telah lolos dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) Pemilihan Mitra Kerja Sama Badan Usaha Pengembang dan Pengelola Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik (BUPP PSEL) Danantara.
Potensi Besar Energi Terbarukan di Indonesia
Menurut Bobby, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan, terutama di sektor waste to energy. Proyek-proyek seperti ini mulai menarik minat lembaga keuangan, seperti bank-bank besar yang sudah melakukan komunikasi dengan pemerintah sejak awal tahun untuk menjajaki pembiayaan proyek waste to energy.
Sementara itu, Direktur sekaligus Chief Financial Officer OASA, Soraya Inderasari, menyampaikan bahwa perseroan masih berada dalam tahap persiapan tender. Oleh karena itu, nilai penawaran masih dalam proses dan belum dapat disebutkan. Ia juga menegaskan bahwa informasi terkait nilai bidding bersifat rahasia hingga dokumen penawaran resmi disampaikan pada tanggal 2 Januari 2026.
Belanja Modal OASA Tahun 2025 dan 2026
Kemudian, Soraya juga menjelaskan bahwa belanja modal (capital expenditure atau capex) OASA sepanjang 2025 di bawah Rp 500 juta. Kecilnya angka ini lantaran hanya digunakan untuk penambahan peralatan penunjang pabrik biomass anak usaha, PT Mentari Biru Energi.
Untuk tahun 2026, OASA akan menggelontorkan capex di atas Rp 100 miliar untuk pembangkit sampah. Dana tersebut akan digunakan untuk aktivitas pre-ops atau persiapan proyek PSEL di Tangerang Selatan dan persiapan konstruksi proyek PSEL lainnya yang sedang proses tender.
Proyek PLTSA Tangerang Selatan
Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Tangerang Selatan akan dikembangkan oleh Badan Usaha Pelaksana PT Indoplas Tianying Energy, yang merupakan kerja sama antara PT Indoplas Energi Hijau dengan kepemilikan 76% dan China Tianying Inc sebesar 24%. Proyek ini dialokasikan di atas lahan seluas 5,53 hektare.
PSEL Tangerang Selatan memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga 1.100 ton per hari, terdiri dari 1.000 ton sampah baru dan 100 ton sampah lama atau hasil penambangan. Fasilitas ini ditargetkan menghasilkan listrik dengan kapasitas terpasang 25 MW, gross output sebesar 23,14 MW, dan kapasitas bersih (nett) mencapai 19,62 MW.
Listrik yang dihasilkan akan dijual dengan tarif sebesar US$ 0,1335 per kWh untuk periode tahun pertama hingga tahun ke-30. Selain itu, proyek ini juga memperoleh pendapatan dari tarif pengolahan sampah atau tipping fee sebesar Rp 529.000 per ton.
Total kebutuhan investasi proyek PSEL Tangerang Selatan mencapai Rp 2,30 triliun atau setara dengan US$ 139,9 juta, yang mencakup pembangunan fasilitas pengolahan, instalasi pembangkit, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Proyek PLTSA Jakarta Barat
Di samping itu, proyek PSEL di Jakarta Barat akan dikembangkan oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) bersama konsorsium WIKA–Indoplas di atas lahan seluas sekitar 8 hektare, termasuk untuk akses jalan, yang berlokasi di Jalan Sultan Hamengkubuwono IX, Cakung, Jakarta Timur.
PSEL Jakarta Barat memiliki kapasitas pengolahan sampah baru hingga 2.000 ton per hari, dengan kebutuhan air sekitar 600 ton per hari. Dari pengolahan sampah tersebut, fasilitas ini ditargetkan menghasilkan listrik dengan kapasitas terpasang sebesar 43 MW, gross output mencapai 41,30 MW, dan kapasitas bersih (nett) sebesar 35,52 MW.
Listrik yang dihasilkan akan dijual dengan tarif US$ 0,1184 per kWh untuk periode kontrak tahun pertama hingga tahun ke-30. Selain itu, proyek ini juga memperoleh pendapatan dari tarif pengolahan sampah atau tipping fee sebesar Rp 595.000 per ton.
Adapun total kebutuhan investasi proyek PSEL Jakarta Barat, termasuk pengadaan lahan, diperkirakan mencapai US$ 398 juta atau setara dengan Rp 6,57 triliun.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar