
Ringkasan Berita:
- Ekonomi kreatif menjadi motor baru bagi kota-kota di Sumatera, dengan Palembang dan Pangkalpinang sebagai contoh utama
- Palembang mengandalkan skala metropolitan, ekosistem digital, serta UMKM besar untuk memperkuat sektor kuliner, fesyen, dan MICE
- Sementara itu, Pangkalpinang fokus pada kuliner, perlindungan HKI, dan efisiensi sektor jasa, menjadikannya unggul dalam autentisitas dan produk kreatif premium
aiotrade,PALEMBANG - Ekonomi kreatif (Ekraf) kini bukan lagi sekadar sektor pendukung, melainkan motor penggerak utama bagi kota-kota di Sumatera untuk lepas dari ketergantungan sumber daya alam mentah.
Palembang dan Pangkalpinang adalah dua contoh menarik bagaimana kreativitas lokal dikelola menjadi kekuatan ekonomi baru.
Untuk itu, simak perbandingan potensi ekonomi kreatif di dua kota strategis ini.
Palembang: Skala Metropolitan dan Ekosistem Digital
Sebagai kota yang telah lama mapan dengan skala ekonomi besar, Palembang memanfaatkan "Kampung Kreatif" dan event skala internasional sebagai tulang punggung ekraf mereka.
- Sektor Unggulan: Kuliner tetap menjadi raja. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kota Palembang, pemerintah telah menetapkan target ambisius melalui program "Charming Palembang 2026".
Dengan meluncurkan 135 event strategis, Palembang diproyeksikan menarik 2,3 juta wisatawan dengan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata mencapai Rp366 miliar.
- Kekuatan UMKM: Mengutip laporan BPS Provinsi Sumatera Selatan, jumlah UMKM aktif di Palembang yang melampaui 93.000 unit menjadi fondasi kuat bagi subsektor fesyen (Songket) dan kriya untuk melakukan penetrasi pasar digital global.
- Fokus 2026: Melalui koordinasi dengan Kemenparekraf, Palembang terus memperkuat ekosistem MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) memanfaatkan fasilitas eks-Asian Games di Jakabaring.
Pangkalpinang: Spesialisasi Kuliner dan Perlindungan Inovasi
Pangkalpinang, meskipun secara geografis lebih kecil, menunjukkan efisiensi yang luar biasa dalam mengelola ceruk pasar kreatifnya.
- Kota Kreatif Indonesia: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) secara resmi telah menetapkan Pangkalpinang sebagai bagian dari Jejaring Kota Kreatif Indonesia dengan subsektor kuliner sebagai lokomotifnya.
- Efisiensi Sektor Jasa: Data dari BPS Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan tren pergeseran ekonomi yang signifikan. Sektor Akomodasi dan Makan Minum di Pangkalpinang tercatat tumbuh pesat sebesar 13,77 persen, menandakan bahwa konsumsi kreatif masyarakat dan wisatawan mulai mengimbangi fluktuasi sektor pertambangan timah.
- Legalitas Inovasi: Untuk memperkuat daya saing, Bapperida Kota Pangkalpinang mencanangkan target pendaftaran 20 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) baru pada tahun 2026. Hal ini dilakukan untuk memastikan produk kreatif lokal seperti Lada Putih dan kerajinan kerang memiliki perlindungan hukum di pasar internasional.
Analisis Komparatif: Mana yang Lebih Prospektif?
| Dimensi | Palembang | Pangkalpinang |
| Model Pengembangan | Berbasis Event & Destinasi masal. | Berbasis Spesialisasi & Kualitas Jasa. |
| Data Pertumbuhan | Fokus pada volume PAD (Target Rp366 M). | Fokus pada pertumbuhan sektor jasa (13,77 persen ). |
| Regulasi Utama | Perda Percepatan Ekonomi Kreatif. | Standarisasi HKI & Kota Kreatif Kemenparekraf. |
Palembang unggul dalam volume dan infrastruktur, menjadikannya tempat ideal bagi investor ekraf yang mengincar pasar distribusi skala besar.
Sementara itu, Pangkalpinang menawarkan agilitas dan autentisitas, sangat potensial bagi pengembangan merek-merek butik dan produk kreatif premium yang berbasis pada hak kekayaan intelektual.***
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar