
Dewa Janus dan Kebiasaan Merokok di Indonesia
Dewa Janus dalam mitos Romawi kuno dikenal memiliki dua wajah, yang menjadi simbol transisi dan perubahan. Namun, istilah "Janus-faced" dalam bahasa Inggris sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak jujur atau menipu. Di Indonesia, istilah ini sangat cocok untuk menggambarkan kebiasaan merokok yang terus berubah, khususnya dengan munculnya produk-produk baru seperti vape.
Perubahan Pola Merokok di Kalangan Remaja
Di tengah perkembangan teknologi, banyak remaja Indonesia beralih dari rokok konvensional ke vape. Alasannya adalah karena mereka menganggap vape sebagai alternatif yang lebih ringan. Namun, pemahaman tersebut keliru besar. Baik rokok maupun vape sama-sama mengandung nikotin, zat adiktif yang dapat menyebabkan ketergantungan.
Cara Kerja Nikotin dalam Tubuh
Nikotin masuk ke tubuh melalui pernapasan, kemudian diserap oleh aliran darah dan mencapai otak. Di otak, nikotin memicu pelepasan neurotransmiter seperti dopamin, yang memberikan sensasi senang dan fokus. Akibatnya, pengguna merasa ketergantungan pada rokok atau vape hanya untuk merasa nyaman dan bersemangat dalam aktivitas sehari-hari.
Risiko Kesehatan yang Sama
Meski vape dianggap lebih "ringan", risiko kesehatannya tidak jauh berbeda dengan rokok konvensional. Dalam uap vape terdapat nikotin cair dengan kadar bervariasi antara 3-36 mg/ml. Di Indonesia, beberapa produk bahkan tidak mencantumkan kadar nikotin di labelnya. Di Uni Eropa dan Kanada, batas maksimal nikotin dalam vape adalah 20 mg/mL, tetapi banyak produk di Indonesia melampaui ambang batas tersebut.
Selain nikotin, uap vape juga mengandung logam berat, formaldehida, dan partikel halus yang berbahaya bagi paru dan jantung. Dengan demikian, vape memiliki risiko kesehatan yang serupa dengan rokok konvensional.
Kandungan Nikotin dan Tar dalam Rokok Indonesia
Hasil pengujian BPOM menunjukkan bahwa kadar nikotin dan tar dalam rokok kretek, baik tangan maupun mesin, jauh lebih tinggi dibandingkan rokok putih. Contohnya, rokok sigaret kretek tangan (SKT) memiliki kandungan nikotin 0,85-4,04 mg/batang, sedangkan rokok sigaret putih mesin (SPM) hanya 0,10-1,94 mg/batang. Dari sisi tar, polanya serupa: SKT memiliki 19,93-57,26 mg/batang, sedangkan SPM hanya 0,98-20,30 mg/batang.
Batas maksimum tar dan nikotin di Uni Eropa adalah 10 mg tar dan 1 mg nikotin per batang sesuai Directive 2014/40/EU. Jelas, sebagian besar rokok di Indonesia melampaui ambang batas aman internasional.
Dampak Jangka Panjang dari Ketergantungan Nikotin
Ketergantungan nikotin tidak hanya menjadi masalah perilaku, tetapi juga pintu masuk bagi berbagai penyakit kronik. Ketika kadar nikotin menurun, misalnya saat seseorang berhenti merokok, otak merespons dengan gejala putus nikotin seperti gelisah, sulit konsentrasi, dan mudah marah. Pajanan berkelanjutan terhadap zat-zat berbahaya seperti tar dan formaldehida menyebabkan dampak kesehatan serius seperti kanker paru, PPOK, dan gangguan sistem pernapasan lainnya.
Kesadaran Masyarakat dan Tindakan yang Diperlukan
Sudah saatnya masyarakat, terutama anak muda, meningkatkan kesadaran terhadap jargon pemasaran seperti "less harmful" yang digunakan oleh produk rokok baru seperti vape. Vape bukanlah solusi, melainkan jalur baru menuju kecanduan nikotin.
Pemerintah telah mengambil langkah penting dengan PP Nomor 28 Tahun 2024 yang mengatur batas kadar nikotin dan tar untuk semua produk tembakau. Untuk memperkuat kebijakan ini, diperlukan dua langkah utama:
- Pengawasan ketat terhadap promosi dan penjualan produk rokok, terutama di ruang digital.
- Kampanye publik yang masif dan berbasis bukti ilmiah terkait risiko kesehatan dari produk rokok.
Pemerintah juga perlu memastikan edukasi kesehatan dimasukkan dalam kurikulum sekolah dan menggandeng komunitas anak muda agar pesan anti-rokok dan anti-vape tersampaikan dengan bahasa yang relevan.
Dengan langkah-langkah tersebut, semoga generasi muda bisa memahami bahwa kebiasaan merokok (baik rokok konvensional maupun vape) harus dihilangkan sama sekali, bukan sekadar menurunkan kadar nikotinnya. Sekali lagi, rokok dan vape adalah wajah Janusian modern risiko kesehatan: keduanya boleh berbeda bentuk, tapi menciptakan risiko sama berupa ketergantungan, penyakit, dan kehilangan kesehatan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar