
Perbaikan Jalan Jalur Mudik Diharapkan Rampung Sebelum Lebaran
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyatakan bahwa pemerintah menargetkan perbaikan jalan di jalur mudik dapat selesai sebelum Lebaran. Ia mengatakan, “Kami meminta agar jalan-jalan yang akan dilalui oleh para pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua dapat diperbaiki.” Pernyataan ini disampaikan saat ia berada di Stasiun Gambir, Selasa, 24 Februari 2026.
Ia menjelaskan bahwa Kementerian Pekerjaan Umum telah menjanjikan perbaikan jalan dapat rampung paling lambat 10 hari sebelum Lebaran. Perbaikan jalan tersebut mencakup berbagai jalur, termasuk jalur Pantura.
Menurut data dari Kementerian Perhubungan, sebanyak 143,9 juta orang diprediksi akan melakukan perjalanan selama periode Lebaran 2026. Angka ini berasal dari Survei Angkutan Lebaran 2026 dan menjadi dasar pemerintah dalam menyiapkan strategi pengendalian arus mudik dan balik tahun ini.
Dudy Purwagandhi menyebutkan bahwa proyeksi jumlah pergerakan masyarakat pada 2026 sedikit lebih rendah dibanding hasil survei 2025 yang mencatat potensi 146 juta pergerakan. Namun, realisasi di lapangan pada tahun lalu mencapai 154 juta orang.
“Kami berasumsi bahwa pada 2026, dengan mempertimbangkan hari libur yang cukup panjang dan penerapan kebijakan flexible working arrangement (FWA), periode pergerakan masyarakat dapat berlangsung kurang lebih selama dua pekan,” ujar Dudy Purwagandhi, dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 16 Februari 2026.
Meskipun secara angka terjadi penurunan sekitar 1,7 persen, pemerintah tetap bersiap dengan skenario lonjakan yang lebih tinggi. Dudy Purwagandhi mengimbau masyarakat untuk menyusun rencana perjalanan sejak dini dan memanfaatkan fleksibilitas waktu kerja untuk menghindari hari-hari puncak.
Pentingnya Kolaborasi dalam Menghadapi Arus Mudik
Dengan prediksi hampir 144 juta orang akan bergerak, Kementerian Perhubungan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, operator transportasi, dan masyarakat guna memastikan kelancaran arus mudik dan balik Lebaran 2026.
Selain itu, kebijakan flexible working arrangement (FWA) dianggap dapat membantu mengurai kepadatan pergerakan masyarakat. Menurut Dudy Purwagandhi, pengaturan kerja yang lebih fleksibel memungkinkan masyarakat mengatur waktu perjalanan sehingga tidak menumpuk pada hari-hari tertentu.
Pemerintah telah menyepakati penerapan FWA bagi Aparatur Sipil Negara dan sebagian pekerja swasta pada 16, 17, 25, 26, serta 27 Maret 2026. Berdasarkan hasil survei Kemenhub, kebijakan tersebut dianggap cukup efektif menekan potensi lonjakan pergerakan pada puncak arus mudik yang biasanya terjadi pada H-5 dan H-3.
Dengan adanya FWA, kata Dudy Purwagandhi, pergerakan pemudik diperkirakan lebih menyebar ke rentang H-6 hingga H-8 sebelum Lebaran. Pola serupa juga diprediksi terjadi saat arus balik. “Survei menunjukkan kebijakan tersebut berpotensi meredam lonjakan pada H+4 sampai H+6 setelah Lebaran, karena sebagian masyarakat memilih kembali di luar periode puncak,” ujarnya.
Nandito Putra berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar