Pembandingan Saham Konglomerat dan Blue Chip, Siapa Pemenang di 2026?

Kinerja Saham Blue Chip dan Perbankan di Tengah Tantangan

Pada tahun 2025, sejumlah saham blue chip yang sebelumnya menjadi tulang punggung Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja saham-saham besar di sektor perbankan kini tidak lagi mampu memimpin pasar secara dominan dibandingkan saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat.

Menurut Liza Camelia, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, secara historis saham perbankan sering kali menjadi penggerak utama IHSG. Namun, pada tahun 2025, kinerja saham perbankan besar di Tanah Air justru lesu. Dari sektor perbankan, beberapa saham seperti BBRI terkoreksi hingga 6,86%, BMRI turun 9,65%, dan BBCA mencatat penurunan sebesar 15,25%. Hanya BBNI yang masih mampu mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 1,61% YtD (Year to Date).

Liza menilai bahwa kucuran likuiditas ke sektor perbankan justru berpotensi menekan prospek saham perbankan besar. Hal ini terjadi jika perbankan yang menerima suntikan dana tersebut tidak mampu menyalurkannya secara efektif. “Walaupun likuiditas sudah banyak dikucurkan, tapi apakah akan terserap? Sementara prakteknya kita tahu, perbankan itu pada engap-engapan menyalurkan kredit,” ujarnya saat diwawancarai di Jakarta.

Meskipun begitu, Liza tetap melihat peluang rebound untuk saham-saham perbankan besar. Namun, hal tersebut harus terlebih dahulu dibuktikan oleh kemampuan emiten dalam menyalurkan kredit ke masyarakat. Jika hal ini tercapai, maka peluang masuknya investor asing ke saham-saham blue chip perbankan dinilai akan semakin terbuka.

Liza menilai bahwa penggerak pasar saham pada tahun mendatang adalah emiten-emiten yang mampu menampilkan pendanaan yang jelas dan strategi yang terang ke depannya. “Perusahaan yang memiliki pendanaan atau setidaknya strategi yang jelas itu lebih baik lagi. Ada investor yang masuk, yang dananya kencang, itu lebih oke,” katanya.

Peluang Saham Konglomerat di Tahun 2026

Di sisi lain, Isfhan Helmy, Economist and Strategist Sinarmas Sekuritas, menilai bahwa peluang menguatnya saham-saham konglomerat pada 2026 masih terbuka. Namun, tidak semua saham terafiliasi konglomerat Tanah Air dinilai mampu berkinerja moncer pada tahun mendatang.

Hal ini terutama disebabkan oleh rebalancing indeks MSCI pada 2026. Saham-saham yang secara fundamental hampir mendekati ketentuan MSCI, seperti PANI, DEWA, hingga PTRO diprediksi mampu menguat ke depannya. “Jadi tidak semua saham konglomerat itu akan bisa masuk MSCI dengan gampang. Artinya, mereka harus punya extra effort untuk membawa floating market cap naik 200–300% lagi,” ujarnya dalam acara 2026 Outlook Sinarmas Sekuritas.

Terlebih, MSCI kini tengah menggodok metodologi anyar mengenai free float. Hal ini akan membuat kian selektif saham-saham konglomerat untuk dapat masuk ke indeks ternama itu. Dengan begitu, Isfhan menilai bahwa peluang penguatan saham-saham konglomerat pada tahun mendatang akan lebih terbatas, bergantung pada kinerja emiten yang mampu mendekati metodologi anyar MSCI.

“Jadi kami lihat, mungkin untuk saham konglomerat masuk MSCI akan lebih susah. Jadi kami lihat tahun depan mungkin konglomerat masih bisa jalan, tapi tidak semua konglomerat itu naik,” katanya.

Rekomendasi Investasi

Dalam konteks investasi, kedua analis menekankan pentingnya pemilihan saham yang memiliki fondasi kuat, baik dari segi pendanaan maupun strategi bisnis. Saham-saham yang mampu menunjukkan kinerja yang stabil dan progresif diharapkan mampu menarik minat investor, baik lokal maupun asing.

Kemajuan ekonomi dan kebijakan pemerintah juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar saham. Investor perlu memperhatikan berbagai indikator makroekonomi serta perkembangan regulasi yang berdampak langsung pada kinerja emiten.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan