Penjelasan Danantara Mengenai Rencana Pembentukan BUMN Tekstil
CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani, memberikan penjelasan mengenai rencana pemerintah yang akan membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor tekstil. Menurutnya, pihaknya masih dalam proses mempertimbangkan berbagai opsi yang ada dan belum ada keputusan final terkait hal ini.
Rencana pembentukan BUMN tekstil ini sebelumnya disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Rosan menyatakan bahwa Danantara akan melakukan studi kelayakan dan berbagai penilaian sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
1. Danantara Akan Lakukan Studi Kelayakan dan Berbagai Penilaian

Rosan menjelaskan bahwa Danantara akan melakukan investasi berdasarkan kajian kelayakan (feasibility study) dan berbagai penilaian (assessment). Selain itu, pihaknya memiliki sejumlah kriteria dan parameter yang harus dipenuhi, salah satunya adalah penciptaan lapangan kerja.
Ia menekankan bahwa setiap rencana investasi yang dilakukan pihaknya dilakukan melalui studi kelayakan dan asesmen menyeluruh, termasuk terhadap sektor tekstil yang saat ini menjadi perhatian pemerintah.
"Kita di Danantara, semuanya tentunya investasi yang kita lakukan itu sudah dalam feasibility study atau assessment yang penuh dari segala macam sektor. Tentunya juga kita ada kriteria-kriteria atau parameter-parameter yang harus kita penuhi. Termasuk juga, parameter yang kita masuk itu adalah lapangan pekerjaan," ucap dia.
2. Danantara Terbuka Berinvestasi di Sektor Tekstil

Rosan menambahkan bahwa Danantara terbuka untuk berinvestasi pada perusahaan tekstil yang masuk dalam kategori distressed asset atau yang sedang mengalami masalah, selama masih ada potensi untuk diselamatkan melalui proses restrukturisasi.
Danantara tidak hanya akan menyuntikkan modal, tetapi juga akan membenahi model bisnis, pasar, dan rantai pasok agar perusahaan tersebut bisa kembali sehat dan menyerap lebih banyak tenaga kerja.
"Apalagi jika itu termasuk dalam distressed asset, kami akan mempertimbangkannya. Selama kami yakin perusahaan tersebut bisa mengalami turn around dan restrukturisasi secara maksimal, seperti yang sudah kami lakukan pada perusahaan-perusahaan BUMN lainnya yang memang memerlukan penyehatan secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi permodalan, tetapi juga dari pasar, off-taker, dan faktor lainnya," tutur Rosan.
3. Alasan Pembentukan BUMN Tekstil

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya mengungkapkan bahwa pemerintah akan membentuk BUMN baru yang fokus pada sektor tekstil. Langkah ini diambil karena industri tekstil dan garmen dianggap sebagai sektor strategis dalam menghadapi dampak kebijakan tarif dari Amerika Serikat (AS).
"Bapak Presiden mengingatkan, Indonesia pernah memiliki BUMN tekstil, dan kini rencananya akan dihidupkan kembali. Pendanaan sebesar 6 miliar dolar AS akan disiapkan oleh Danantara," kata Airlangga dalam acara Indonesian Business Council (IBC) Business Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (14/1).
Airlangga menjelaskan bahwa setelah studi selesai, rencana ini akan dilanjutkan dengan penyusunan peta jalan (roadmap) untuk memperkuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah telah menyiapkan pendanaan sebesar 6 miliar dolar AS yang akan dikelola melalui BPI Danantara.
Perspektif Lain tentang Kerja Sama dengan BUMN
Beberapa pihak mengkritik kerja sama antara Danantara dan BUMN, terutama dalam konteks pengelolaan investasi. Misalnya, Kadin menyoroti perbedaan kerja sama antara Danantara dan BUMN saat ini. Dahlan Iskan juga menyatakan bahwa istilah BUMN seharusnya hilang sepenuhnya jika Danantara hadir.
Selain itu, Danantara juga blak-blakan mengungkapkan rencana untuk membatasi suntikan modal ke BUMN tahun ini, yang menunjukkan pergeseran dalam strategi pengelolaan investasi nasional.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar