
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penurunan yield surat berharga negara (SBN) pada tahun depan. Prediksi ini didasarkan pada rencana penerbitan SBN yang diperkirakan meningkat pada 2026. Hal ini menjadi faktor utama yang dapat memengaruhi tingkat suku bunga di pasar obligasi.
Proyeksi Penerbitan SBN Tahun 2026
Chief Economist Pefindo, Suhindarto, menjelaskan bahwa penerbitan SBN pada 2026 akan relatif lebih tinggi dibandingkan 2025. Dua alasan utama di balik proyeksi ini adalah: pertama, pelebaran defisit APBN; dan kedua, peningkatan jumlah surat utang jatuh tempo dibandingkan tahun sebelumnya.
Target penerbitan SBN untuk 2026 diperkirakan mencapai Rp 1.585 triliun. Jumlah ini terdiri dari penerbitan SBN sebesar Rp 749,19 triliun dan surat utang jatuh tempo senilai Rp 836,2 triliun. Angka ini lebih tinggi dibanding target 2025 yang mencapai Rp 1.342 triliun secara bruto.
Suhindarto mengungkapkan bahwa meskipun penerbitan SBN meningkat, permintaan domestik masih bisa menjadi buffer kuat dalam menyerap penerbitan tersebut. Sehingga, yield SBN kemungkinan besar akan terus mengalami penurunan.
Proyeksi Suku Bunga Acuan dan Yield SBN
Suhindarto memperkirakan bahwa yield SBN akan melanjutkan penurunan seiring dengan potensi penurunan suku bunga acuan. Pefindo melihat bahwa Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk melakukan pemangkasan suku bunga, meskipun telah melakukan penurunan sebesar 125 basis point (bps) pada tahun ini.
“Tahun depan, rentang suku bunga acuannya bisa bergerak antara 4%, 4,25%, hingga 4,5%, dengan asumsi The Fed masih akan menurunkan suku bunganya sekali lagi,” ujar Suhindarto.
Dari sisi yield SBN 10 tahun, Pefindo memprediksi rentangnya antara 5,6% hingga 6,2%, dengan titik tengah di 5,9%. Suhindarto juga meyakini bahwa investor asing akan terus masuk ke pasar obligasi Indonesia karena peringkat soberan negara yang stabil di BBB serta imbal hasil yang kompetitif.
Strategi Investasi Obligasi di Tengah Ketidakpastian
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memberikan pandangan tentang strategi investasi obligasi di saat ketidakpastian tinggi. Menurutnya, pendekatan yang lebih seimbang umumnya menggabungkan porsi SBN tenor pendek untuk menjaga likuiditas dan fleksibilitas, serta porsi tenor menengah untuk menangkap penurunan suku bunga tanpa risiko volatilitas yang tinggi.
Investor aktif dapat memanfaatkan fase penurunan imbal hasil untuk merealisasikan keuntungan bertahap, lalu menunggu peluang masuk kembali ketika pasar terkoreksi. Sementara itu, investor konservatif lebih baik fokus pada seri yang sesuai untuk ditahan hingga jatuh tempo.
Josua menambahkan bahwa kunci pemantauan tetap sama, yaitu stabilitas rupiah, arus dana asing, arah inflasi domestik, sinyal BI terkait prioritas stabilitas, serta perkembangan pembiayaan APBN dan lelang SBN. Faktor-faktor ini menjadi penentu apakah penurunan suku bunga benar-benar diwujudkan oleh pasar dalam bentuk penurunan imbal hasil yang berkelanjutan.
Pengembangan Pasar Uang dan SPN
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, Suminto, menyampaikan bahwa sejak triwulan IV-2025, pemerintah telah meningkatkan penerbitan Surat Perbendaharaan Negara (SPN). Tujuan dari langkah ini adalah untuk mengembangkan pasar uang, mendalami pasar, dan membangun manajemen kas pemerintah yang lebih efisien.
“Kami akan meningkatkan penerbitan SPN dan SPNS dengan tenor di bawah satu tahun, termasuk mulai melengkapi tenornya sejak kuartal IV-2025, seperti 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan,” ujar Suminto dalam konferensi pers APBN KiTa.
Dengan upaya ini, pemerintah memiliki fleksibilitas yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan dan manajemen kas yang efisien. Di sisi lain, pasar memiliki instrumen yang lengkap sesuai kebutuhan investor, terutama SPN dan SPNS yang berguna untuk strategi treasury operation.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar