Pengelolaan risiko dan diversifikasi kunci untuk capai keuntungan di atas inflasi


aiotrade.CO.ID – JAKARTA.

Tantangan Investor dalam Mempertahankan Imbal Hasil di Tengah Inflasi

Dalam situasi ekonomi yang terus berubah, investor menghadapi tantangan besar dalam menjaga imbal hasil atau return dari portofolio investasinya. Hal ini semakin relevan mengingat inflasi jangka panjang yang terus terakumulasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan tertinggi dalam 10 tahun terakhir terjadi pada tahun 2023 dengan angka sebesar 5,3%, sedangkan inflasi terendah tercatat pada tahun 2024 sebesar 1,6%. Secara rata-rata, inflasi tahunan selama periode tersebut mencapai 2,9%.

Infovesta mencatat bahwa pertumbuhan inflasi Indonesia dalam 10 tahun terakhir mencapai 32%. Artinya, agar daya beli tidak tergerus, investor perlu memastikan bahwa return dari portofolionya setidaknya sama dengan tingkat inflasi tersebut dalam satu dekade.

Karakteristik Aset dan Manajemen Risiko

Menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, pertumbuhan inflasi tersebut cenderung rendah secara historis karena pertumbuhan ekonomi juga melambat. Namun, tantangan utama bagi investor ke depan adalah memahami karakteristik masing-masing instrumen investasi serta mengelola risiko secara disiplin.

“Jika inflasi mencapai 32% dalam 10 tahun, artinya pertumbuhan inflasi di sekitar 2,8% hingga 3% per tahun. Investasi di aset keuangan memiliki karakteristik masing-masing, sehingga hal yang perlu kita perhatikan adalah memahami aset yang ingin kita investasikan,” ujarnya.

David menekankan bahwa setiap aset keuangan memiliki sifat dan risiko yang berbeda. Oleh karena itu, investor harus memahami profil risiko dari instrumen yang dipilih, terutama untuk aset berisiko seperti saham. Ia juga mengingatkan investor untuk tidak terjebak dalam fear of missing out (FOMO) maupun panic selling.

Diversifikasi Portofolio sebagai Strategi Utama

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perilaku investor tetap bergantung pada risk appetite masing-masing. Investor agresif cenderung lebih tertarik pada pasar saham. Contohnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencatat pertumbuhan sekitar 22,5% pada tahun 2025.

Sementara itu, investor konservatif biasanya memilih instrumen berisiko rendah seperti Surat Berharga Negara (SBN) dengan kupon sekitar 5%-6% atau deposito yang relatif stabil. Selain itu, sebagian investor juga membeli aset relatif aman seperti emas yang berfungsi sebagai hedging terhadap inflasi maupun risiko geopolitik, meskipun tetap ada potensi koreksi.

Perkembangan Makro Ekonomi dan Keberlanjutan Investasi

David menekankan pentingnya bagi investor untuk terus memantau perkembangan makro ekonomi, baik domestik maupun global, agar portofolio tetap on track melampaui inflasi. Menurutnya, investor perlu memastikan adanya kesinambungan antara cerita investasi dengan kondisi aktual di lapangan.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain:
Perubahan regulasi yang dapat memengaruhi kinerja aset.
Pergerakan indeks pasar yang bisa menjadi indikator kesehatan portofolio.
* Peristiwa global yang berpotensi memengaruhi dinamika pasar.

Dengan pemahaman yang mendalam tentang karakteristik aset dan manajemen risiko yang baik, investor dapat tetap menjaga kinerja portofolio mereka di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan