
Pemulihan Harga Minyak Dunia Berdampak Positif pada Emiten Migas
Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan, memberikan angin segar bagi sejumlah emiten produsen minyak dan gas (migas) di Indonesia. Pergerakan ini terjadi di tengah memanasnya situasi geopolitik global yang berdampak pada stabilitas pasokan energi.
Mengacu pada data dari Trading Economics, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat mencapai level US$ 66,48 per barel pada 20 Februari 2026, menjadi titik tertinggi dalam tahun tersebut. Pada hari Kamis (26/2/2026) pukul 18.50 WIB, harga WTI turun sedikit menjadi US$ 64,35 per barel atau terkoreksi 1,63% dari hari sebelumnya. Namun, dalam sebulan terakhir, harga WTI masih tumbuh sebesar 3,18%.
Sementara itu, harga minyak Brent juga terkoreksi sebesar 1,37% ke level US$ 69,88 per barel. Meskipun demikian, dalam satu bulan terakhir, harga Brent tetap menguat sebesar 3,41%. Pergerakan harga minyak ini memberikan sentimen positif bagi sejumlah emiten migas.
Namun, tidak semua saham migas mengalami penguatan sejalan dengan tren harga minyak. Sejauh ini, hanya PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang menunjukkan peningkatan signifikan. Harga saham MEDC naik 10,89% dalam sebulan terakhir, mencapai Rp 1.680 per saham pada Kamis (26/2/2026). Sedangkan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga mengalami kenaikan 3,51%, meski peningkatan tersebut baru terlihat menjelang pertengahan Februari 2026.
Sebaliknya, dua saham milik Happy Hapsoro, yakni PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), masih dalam fase koreksi. RAJA turun 24,64% dalam sebulan terakhir, sementara RATU turun 8,36%.
Dampak Peningkatan Harga Minyak pada Emiten
CEO Edvisor Provina Visindo Praska Putrantyo menilai bahwa kenaikan harga minyak dunia tetap menjadi sentimen positif bagi emiten migas. Dengan harga minyak yang tinggi, margin profitabilitas perusahaan bisa diperkuat, serta aktivitas produksi dapat meningkat secara bertahap.
"Diharapkan emiten akan mengeluarkan capital expenditure (capex) yang lebih agresif," ujarnya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan bahwa ketika harga minyak kembali di atas US$ 60 per barel, emiten bisa memaksimalkan produksi dari sumur tua yang kurang ekonomis. Selain itu, lonjakan harga minyak juga mendorong aktivitas eksplorasi di sumur-sumur potensial, sehingga cadangan migas perusahaan bisa meningkat.
Dalam situasi ini, emiten migas juga memiliki peluang untuk merencanakan atau mengeksekusi akuisisi blok migas baru. "Syukur-syukur emiten bisa mendapatkan akuisisi saat valuasi masih murah," tambah Nafan.
Strategi dan Tantangan di Tengah Kenaikan Harga Minyak
Nafan menekankan bahwa emiten migas perlu tetap fokus menjaga debt to equity ratio (DER) agar tidak terlalu terbebani oleh ekspansi yang agresif. Praska menyarankan emiten untuk memperkuat strategi optimalisasi arus kas dan memaksimalkan kemampuan produksi dari lapangan eksisting melalui kegiatan workover dan infill drilling.
Emiten migas dengan dominasi kontrak jangka panjang dinilai memiliki potensi unggul kinerjanya pada 2026. Selain itu, emiten yang sudah memiliki proyek on stream pada tahun ini juga berpotensi diuntungkan oleh kenaikan volume produksi, sehingga margin profitabilitas bisa ikut tumbuh.
Peringatan dan Rekomendasi Investasi
Meski ada potensi positif, Nafan mengingatkan bahwa harga minyak tetap rawan mengalami volatilitas jika muncul sentimen perlambatan ekonomi global. Selain itu, agenda transisi energi bisa memberi tekanan kepada emiten migas, terutama terkait standar environmental, social, and governance (ESG).
Rekomendasi investasi dari Nafan antara lain akumulasi beli saham RATU dengan target harga Rp 9.575 per saham dan add saham ENRG dengan target harga Rp 1.820 per saham. Sementara itu, Praska menyarankan pemantauan saham MEDC dengan target harga Rp 1.820 per saham dan spekulasi beli saham ENRG dengan target harga Rp 1.800 per saham.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar