Peningkatan Omzet 56% Melalui Pendampingan dan Akses Kredit UMKM

Program Mastercard Strive Indonesia Berhasil Tingkatkan Pendapatan dan Kepercayaan Diri Pengusaha Kecil

Laporan terbaru dari program Mastercard Strive Indonesia menunjukkan bahwa sebanyak 56 persen pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) yang terlibat dalam program tersebut mengalami peningkatan pendapatan. Capaian ini diumumkan setelah program ini telah mencapai lebih dari 500 ribu pengusaha, melebihi target awal sebesar 300 ribu peserta.

Program ini difokuskan pada penyediaan perangkat digital, wawasan keuangan, serta pendampingan bagi para pelaku usaha di berbagai wilayah Indonesia. Menurut Country Manager Indonesia Mastercard, Aileen Goh, inovasi tidak hanya tentang teknologi tetapi juga tentang membuka peluang dalam skala besar.

Tren Penurunan Akses Kredit Formal di Sektor UMK

Meski terdapat pertumbuhan pendapatan pada peserta program, laporan Barometer Striving to Thrive 2025 mengungkapkan adanya penurunan akses kredit formal secara nasional. Data menunjukkan angka pengambilan kredit formal turun dari 33 persen pada 2023 menjadi 27 persen pada 2024, dan menyentuh angka 20 persen pada 2025.

Hambatan budaya, tingginya suku bunga, dan persyaratan jaminan dinilai menjadi penyebab pelaku usaha masih bergantung pada pemberi pinjaman informal. Padahal, sektor UMK merupakan fondasi ekonomi, namun masih banyak yang belum terjangkau layanan keuangan formal.

Melalui kolaborasi dengan 17 penyedia layanan keuangan, program tersebut telah memfasilitasi pinjaman mikro total Rp140 miliar bagi 26.500 pelaku usaha, di mana 97 persen di antaranya adalah pengusaha perempuan.

Efektivitas Pendampingan Non-Finansial bagi Pengusaha

Hasil evaluasi program menunjukkan ketersediaan modal perlu disertai dengan keterampilan pengelolaan bisnis. Berdasarkan laporan tersebut, 74 persen pengusaha memang belum terlibat dengan layanan pendukung bisnis, namun mereka yang mendapatkan pendampingan memiliki peluang lebih besar untuk melaporkan pertumbuhan pendapatan.

Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia Ade Soekadis menjelaskan pengusaha membutuhkan dukungan praktis dan tepercaya untuk berkembang. Penggunaan mentor lokal dan platform digital seperti MicroMentor digunakan untuk membantu pelaku usaha dalam proses administrasi serta membangun ketangguhan bisnis.

Salah satu contohnya adalah bantuan bimbingan administrasi bagi pemilik usaha di daerah untuk memulihkan kepercayaan diri dalam mengelola kredit.

Kerja Sama Lintas Sektor untuk Ketahanan Ekosistem

Keberhasilan perluasan program di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat disebut sebagai hasil penyelarasan dengan tujuan pemerintah daerah serta fasilitator komunitas.

Deputi I Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian, Ferry Irawan, menilai sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra pembangunan krusial untuk memperluas akses pembiayaan dan kapabilitas digital.

Di sisi lain, Senior Vice President Mastercard Center for Inclusive Growth, Subhashini Chandran menyoroti adanya kesenjangan antara kecepatan adopsi digital dengan perkembangan kapasitas pengusaha. Dia menekankan pentingnya menangani celah dalam kesadaran keamanan digital dan akses dukungan bisnis secara kolektif untuk membangun ekosistem UMK yang lebih kuat di masa depan.

"Tiga tahun terakhir telah menunjukkan bahwa ketika penyelarasan pemerintah bertemu dengan inovasi sektor swasta dan kepercayaan tingkat komunitas, kita dapat membangun ekosistem UMK yang lebih kuat dan siap menghadapi masa depan. Itulah jalan menuju ketahanan ekonomi jangka panjang yang inklusif," ujar Subhashini.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan