
Ringkasan Berita:
- Berdasarkan data penyaluran per kabupaten/kota, Kabupaten Bone menempati posisi teratas dengan total penyaluran KUR sebesar Rp1.738 miliar.
- Sebaliknya, Kabupaten Kepulauan Selayar berada di urutan terakhir dengan nilai penyaluran hanya Rp132 miliar.
- Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Sutardjo Tui, menilai perbedaan tersebut mencerminkan ketimpangan antarwilayah di Sulsel.
aiotrade, MAKASSAR -Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Sulawesi Selatan (Sulsel) hingga 31 Desember 2025 tercatat mencapai Rp16,83 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 283.989 orang.
Namun, distribusi KUR antarwilayah dinilai masih menunjukkan ketimpangan yang cukup signifikan.
Berdasarkan data penyaluran per kabupaten/kota, Kabupaten Bone menempati posisi teratas dengan total penyaluran KUR sebesar Rp1.738 miliar.
Sebaliknya, Kabupaten Kepulauan Selayar berada di urutan terakhir dengan nilai penyaluran hanya Rp132 miliar.
Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Sutardjo Tui, menilai perbedaan tersebut mencerminkan ketimpangan antarwilayah di Sulsel.
“Dari sisi wilayah terlihat ketimpangan yang sangat besar. Ini perbedaannya sangat jauh,” kata Sutardjo, kepada aiotrade, di Makassar, Jumat (9/1/2026).
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan signifikan penyaluran KUR suatu daerah.
Misalnya di Bone karena memiliki jumlah penduduk dan pelaku usaha yang cukup besar.
“Kemungkinan besar Selayar didominasi oleh aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai, sehingga aktivitas usaha kecilnya tidak sebesar Bone,” jelasnya.
Faktor lainnya berkaitan dengan struktur pekerjaan masyarakat.
Di Bone, sebagian besar masyarakat bergerak di sektor perdagangan dan usaha kecil.
Sementara di Selayar sektor pertanian dan bisnis riil relatif lebih terbatas.
Selain itu, Sutardjo juga menyoroti pengaruh budaya dan cara pandang masyarakat terhadap utang.
Menurutnya, ada daerah tertentu yang secara budaya cenderung menghindari utang karena alasan kehati-hatian atau pemahaman.
“Ada masyarakat yang berpandangan bahwa berutang itu berisiko, misalnya takut meninggal sebelum lunas. Sementara di daerah lain, masyarakat justru berpendapat bahwa untuk maju harus berutang secara produktif,” jelasnya.
Sutardjo menambahkan, budaya kewirausahaan di wilayah seperti Bone juga menjadi salah satu faktor utama tingginya penyaluran KUR.
Masyarakatnya dikenal ulet berdagang, berani mengambil risiko, dan terbiasa memutar modal usaha.
“Itu sebabnya kredit mikro, kecil, dan menengah berkembang pesat di sana,” kata Sutardjo.
Sebelumnya, data kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulsel) mencatat, penyaluran KUR di Sulsel masih didominasi segmen mikro.
Hal ini menunjukkan KUR efektif sebagai instrumen penguatan ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan UMKM.
“Penyaluran KUR didominasi oleh segmentasi mikro,” kata Kepala OJK Sulselbar, Moch Muchlasin, kepada aiotrade, Kamis (8/1/2026).
KUR Mikro mendominasi penyaluran dengan nilai mencapai Rp13.18 triliun atau 78,28 persen, dengan jumlah debitur sebanyak 262.941 orang.
Selanjutnya, KUR Kecil tercatat sebesar Rp3.339 miliar, Supply Rumah Rp210 miliar, Demand Rumah Rp53 miliar.
Kemudian KUR Khusus (KUA) sebesar Rp37 miliar, Super Mikro Rp16 miliar, dan KUR TKI Rp2 miliar.
Dari sisi sektor ekonomi, penyaluran KUR terbesar mengalir ke sektor pertanian dengan nilai Rp8.459 miliar atau 50,26 persen.
Disusul sektor perdagangan sebesar Rp5.117 miliar atau 30,40 persen, serta jasa kemasyarakatan sebesar Rp1.123 miliar atau 6,68 persen.(*)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar