
aiotrade,
JAKARTA — PT Pertamina New & Renewable Energy (NRE) sedang mempertimbangkan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) untuk pasar off-grid. Pembangkit ini khususnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik sektor pertambangan dan fasilitas pemurnian (smelter).
Direktur Utama Pertamina NRE John Anies menjelaskan bahwa pihaknya tidak menargetkan pasar kelistrikan terhubung jaringan (on-grid) karena segmen tersebut menjadi domain PT PLN (Persero). Sebaliknya, Pertamina NRE melihat peluang di pasar luar jaringan listrik nasional yang membutuhkan pasokan energi stabil dalam jangka panjang.
“Nuklir kita tetap jalan. Tapi kita menyasar market yang off-grid. Jadi kita enggak mau yang on-grid karena on-grid kan PLN. Kita cari yang off-grid, misalnya ada yang perlu untuk smelter,” ujar John kepada Bisnis, dikutip Kamis (26/2/2026).
John mengatakan bahwa beberapa proyek PLTN off-grid untuk sektor tambang sudah mulai dikembangkan di beberapa negara. Skema ini dinilai menarik, terutama untuk wilayah operasi terpencil yang selama ini bergantung pada pembangkit berbasis diesel atau batu bara dengan biaya logistik tinggi.
“Ada beberapa di luar negeri. Itu sebenarnya menarik juga. To certain extent, tergantung jangka waktunya, bisa relatif lebih murah,” ujarnya.
Lebih lanjut, konsep PLTN off-grid yang dipertimbangkan adalah reaktor modular kecil atau small modular reactor (SMR). Teknologi ini dinilai lebih sesuai untuk kebutuhan industri karena kapasitasnya lebih fleksibel dan relatif lebih terjangkau secara teknis maupun ekonomis.
“SMR itu menarik karena sizing-nya tidak terlalu besar, lebih terjangkau baik secara ekonomis maupun teknis,” katanya.
Meski demikian, John mengakui tantangan utama pengembangan SMR bukan semata-mata pada belanja modal (capital expenditure/capex), melainkan pada kematangan teknologi. Saat ini, teknologi SMR secara global dinilai belum sepenuhnya teruji secara komersial.
Dari sisi keekonomian, John menilai proyek PLTN dinilai memiliki daya tarik karena bersifat jangka panjang. Dengan umur operasi yang panjang, investasi awal yang relatif besar dapat terkompensasi oleh stabilitas biaya produksi listrik dalam jangka waktu yang lebih lama.
“Kalau masalah capex, sebenarnya itu long term. Karena dia bisa jangka panjang dan lain sebagainya. Itu yang menarik dari sisi ekonomi, bukan cuma 10 tahun,” katanya.
Tantangan Pengembangan PLTN Off-grid
Namun demikian, John mengungkapkan bahwa realisasi proyek PLTN off-grid di Indonesia masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah. Pertama, aspek regulasi yang hingga kini dinilai belum sepenuhnya jelas.
Kedua, tingkat penerimaan publik (public acceptability) terhadap proyek nuklir.
“Regulasinya harus jelas dulu, sekarang kan belum duduk. Selain itu acceptability dari masyarakat juga penting,” katanya.
Dia menilai isu penerimaan publik menjadi tantangan universal dalam pengembangan energi nuklir. Kendati secara umum masyarakat dapat menyatakan setuju, resistensi kerap muncul ketika proyek akan dibangun di sekitar lingkungan tempat tinggal.
“Masyarakat mungkin bilang setuju, tapi begitu mau dibangun depan rumah, bilang jangan dulu. Itu di mana-mana sama,” ujar John.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar