
Penyelidikan Terkait Ledakan di SMAN 72 Jakarta
Pendalaman terhadap kejadian ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Jumat pekan lalu (7/11) masih terus berlangsung. Pihak kepolisian telah memperluas penyelidikan dengan menelusuri riwayat pencarian pelaku yang dikenal dengan inisial F di dunia maya. Dalam upaya pencegahan, Polda Metro Jaya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memblokir situs-situs yang dianggap berbahaya.
Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya, Kombes Roberto Gomgom Manorang Pasaribu, menjelaskan bahwa seluruh situs yang dikunjungi oleh pelaku sejak awal tahun sudah menjadi perhatian dari jajarannya. Pihaknya bekerja sama dengan Detasmen Khusus (Densus) 88 Antiteror dalam mengidentifikasi situs-situs tersebut. Koordinasi langsung juga dilakukan dengan Komdigi untuk melakukan pembatasan atau pemblokiran terhadap website-website yang dianggap berpotensi membahayakan.
”Kami juga sudah melakukan koordinasi dengan Komdigi, Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital untuk melakukan pembatasan atau pemblokiran terhadap website-website tersebut,” kata Kombes Roberto dalam pernyataannya.
Menurutnya, situs-situs yang dikunjungi oleh pelaku sangat beragam. Termasuk di dalamnya adalah media massa daring atau media online. Selain itu, Polda Metro Jaya juga melakukan tindakan digital forensik untuk mengumpulkan bukti-bukti yang relevan.
”Karena satu buah laptop yang sempat tidak berada di tangan anak tersebut itu baru ditemukan oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Polda Metro Jaya) dan sudah diserahkan pada hari Minggu kemarin kepada kami penyidik di Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya,” jelasnya.
Pengaruh Aksi Teror dan Kelompok Ekstremis
Sebelumnya, Juru Bicara (Jubir) Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menyampaikan bahwa aksi yang dilakukan oleh pelaku memang dipengaruhi oleh aksi teror dan kelompok ekstrimis di luar negeri. Namun, pelaku tidak terkait langsung dengan jejaring kelompok tersebut.
”Bahwa itu hanya sekedar inspirasi dan ada pola yang berurutan yang mereka posting di komunitas media sosial-nya. Dan itu juga menjadi awareness ke depan bagi kita semua terkait adanya violence atau kekerasan di dunia maya. Terutama bagi para pengguna media sosial, orang tua, dan sebagainya,” ujar Mayndra.
Menurutnya, pencarian yang dilakukan oleh pelaku di dunia maya sudah dimulai sejak awal 2025. Riwayat pencarian pelaku menunjukkan bahwa dia memang sudah mencari hal-hal berbau ekstrem dan tindak kekerasan sejak beberapa bulan lalu. Namun, aksi baru dilakukan pekan lalu karena yang bersangkutan merasa tekanan yang begitu besar.
”Dari awal tahun yang bersangkutan sudah mulai melakukan pencarian,” kata perwira menengah Polri dengan dua kembang di pundak itu.
Langkah Pencegahan dan Kesadaran Bersama
Dari hasil penyelidikan ini, Polda Metro Jaya dan instansi terkait akan terus meningkatkan langkah pencegahan terhadap potensi ancaman serupa. Pemantauan terhadap aktivitas di dunia maya akan terus dilakukan, termasuk memastikan bahwa situs-situs yang dianggap berbahaya tidak dapat diakses oleh masyarakat umum.
Selain itu, pentingnya kesadaran bersama terhadap dampak negatif dari konten-konten ekstrem di internet juga menjadi fokus utama. Masyarakat, terutama para pengguna media sosial dan orang tua, diharapkan lebih waspada dan memahami risiko yang bisa timbul dari eksposur terhadap informasi yang tidak sehat.
Dengan kolaborasi antara aparat kepolisian, lembaga pemerintah, dan masyarakat, diharapkan bisa mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar