
Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta Dikenal Sebagai Pribadi Tertutup
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri mengungkapkan bahwa terduga pelaku atau anak berkonflik dengan hukum (ABH) dalam kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta dikenal sebagai pribadi tertutup dan memiliki ketertarikan terhadap konten kekerasan.
“ABH ini dikenal tertutup, jarang bergaul, dan memiliki ketertarikan pada hal-hal yang ekstrem,” ujar Asep dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Selasa (11/11).
Dari hasil penyelidikan, ABH yang masih berstatus siswa aktif tersebut bertindak secara mandiri dan tidak memiliki keterkaitan dengan jaringan teror mana pun. Polisi juga telah menggeledah rumahnya dan memeriksa 18 saksi, termasuk guru, siswa, dan keluarga.
Korban Ledakan di Lingkungan Masjid Sekolah
Total korban ledakan di lingkungan masjid sekolah tersebut tercatat 96 orang, terdiri dari 67 luka ringan, 26 luka sedang, dan tiga luka berat. Sebanyak 68 orang telah diperbolehkan pulang, sementara 28 lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.
Tujuh Bom Disiapkan, Empat Meledak di Lingkungan Sekolah
Komandan Satuan Brimob Polda Metro Jaya, Kombes Pol Henik Maryanto, menyebutkan ABH menyiapkan tujuh bom dalam aksinya. Empat di antaranya meledak di kawasan masjid SMAN 72, sementara tiga lainnya berhasil diamankan tim Gegana.
“Empat bom meledak, tiga masih aktif dan sudah kami amankan di Markas Gegana,” kata Henik.
Henik menjelaskan, polisi menemukan dua titik lokasi peledakan, yaitu di dalam masjid sekolah dan di sekitar bank sampah serta taman baca. Remot pengendali bom ditemukan di taman baca dalam kondisi masih aktif, yang menandakan pelaku tidak berada di lokasi saat bom meledak.
Polisi memastikan lokasi telah aman setelah dilakukan penyisiran ulang dan penjinakan terhadap bahan peledak yang masih aktif.
Densus 88: ABH Terinspirasi Enam Tokoh Kekerasan Dunia
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, mengungkapkan ABH terinspirasi oleh sedikitnya enam pelaku kekerasan di dunia, termasuk pelaku penembakan massal di sekolah dan tempat ibadah.
“ABH terinspirasi oleh enam figur, di antaranya Eric Harris dan Dylan Klebold (Columbine), Dylann Roof (Charleston), Alexandre Bissonette (Quebec), Vladislav Roslyakov (Kerch), Brenton Tarrant (Christchurch), dan Natalie Lynn Rupnow (Wisconsin),” kata Eka.
Para tokoh tersebut dikenal berpaham Neo-Nazi, White Supremacy, Fasis, dan Ethno-Nasionalis, yang sama-sama menonjolkan ideologi kebencian dan kekerasan.
Eka menjelaskan, ABH bergabung dengan komunitas daring yang mengagungkan aksi kekerasan. Setiap pelaku kekerasan yang viral di komunitas itu dianggap sebagai “pahlawan”.
“Namun tidak ada ideologi tunggal yang diikuti ABH. Dia hanya meniru pola dan tindakan ekstremisme yang viral di media sosial,” jelasnya.
Motif: Merasa Terasing dan Tak Punya Tempat Curhat
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin, menyebut ABH didorong oleh perasaan terasing dan kurang mendapat tempat untuk menyalurkan emosi.
“Dorongannya seperti merasa sendiri, tidak punya tempat untuk menyampaikan keluh kesah, baik di keluarga maupun lingkungan sekolah,” ujar Iman.
Meski ditemukan dugaan pelanggaran hukum, polisi memastikan proses hukum akan tetap memperhatikan hak-hak anak, mengingat ABH maupun korbannya sama-sama berstatus anak. Proses penyidikan juga didampingi oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Bahan Peledak Ditemukan di Rumah Pelaku
Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri menemukan bahan peledak di rumah ABH.
Kepala Bidang Balistik dan Metalurgi Forensik, Kombes Pol Ari Kurniawan Jati, mengatakan bahan tersebut memiliki kekuatan ledak rendah dan identik dengan bahan peledak yang digunakan di lokasi kejadian.
“Bahan yang ditemukan di rumah ABH sesuai dengan hasil olah TKP di masjid dan bank sampah SMAN 72,” kata Ari.
Polisi masih mendalami dari mana ABH memperoleh bahan-bahan tersebut karena saat ini yang bersangkutan masih menjalani perawatan medis.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar