Presiden Prabowo Ungkap Keterlibatan Pejabat TNI dan Polri dalam Perusakan Hutan Sumatra
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengungkapkan bahwa dirinya telah memiliki daftar nama-nama pejabat dari TNI dan Polri yang diduga terlibat dalam praktik perusakan hutan di Pulau Sumatera. Hal ini disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Senin (15/12/2025). Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa tindakan ilegal seperti penebangan hutan secara liar dan penyelundupan kayu tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berdampak buruk terhadap perekonomian nasional.
Dalam sidang kabinet, Presiden Prabowo menyampaikan pernyataan yang mengejutkan, yaitu adanya dugaan keterlibatan aparat penegak hukum dalam bisnis ilegal logging di Indonesia. Menurutnya, beberapa pejabat dari institusi TNI dan Polri diduga terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan penyelundupan kayu yang merusak hutan. Ia menekankan pentingnya untuk menindak tegas aparat yang terlibat agar tidak ada lagi pengabaian terhadap hukum lingkungan.
Pernyataan ini muncul setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Data dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Sumatera masuk dalam kategori risiko tinggi bencana. Korban jiwa mencapai lebih dari seribu orang, dengan jumlah korban hilang yang semakin meningkat.
Risiko Bencana di Wilayah Sumatera
Menurut Jaka Kelana Damanik, Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Sumut, wilayah yang terdampak banjir dan longsor masuk kategori risiko tinggi berdasarkan dokumen kajian risiko bencana nasional Provinsi Sumatera Utara 2022-2026. Hanya Kabupaten Samosir yang termasuk dalam kategori risiko rendah, sedangkan sebagian besar wilayah lainnya berada pada risiko tinggi.
Ia menekankan bahwa pembuat kebijakan harus menggunakan data risiko bencana sebagai acuan dalam menciptakan kebijakan yang pro-lingkungan. "Padahal saat banjir tiba, terlihat banyak kayu-kayu terbawa air. Dan jika dilihat dari citra satelit, tampak kondisi hutan yang gundul di sekitar lokasi bencana," ujar Jaka.
Kerja sama antara pemerintah dan pelaku bisnis juga turut berkontribusi signifikan terhadap kerusakan hutan. Laju deforestasi di kawasan Batang Toru sulit dikendalikan karena perusahaan yang beroperasi di sana melakukan penebangan pohon dengan mengacu pada izin resmi dari pemerintah. Batang Toru merupakan salah satu hutan tropis terakhir di Sumatera Utara yang menjadi habitat penting bagi flora dan fauna langka, termasuk orangutan Tapanuli, spesies yang paling terancam punah di dunia.
Dampak Bencana dan Kerugian Material
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dampak tragis akibat banjir dan longsor di Sumatera hingga Senin (14/12/2025) malam. Korban jiwa mencapai 1.030 orang, meningkat dari 1.016 korban jiwa pada hari sebelumnya. Sementara itu, korban hilang tercatat 206 orang. Data ini berasal dari rekapitulasi tiga provinsi terdampak, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Banjir bandang ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga kerugian material yang signifikan. Rumah-rumah warga, fasilitas publik, dan infrastruktur di berbagai wilayah Sumatera mengalami kerusakan parah. Jalur transportasi terputus, sehingga evakuasi dan distribusi bantuan logistik menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan relawan.
Tuntutan Terhadap Pemerintah dan Penegakan Hukum
Kritik terhadap pemerintah semakin meningkat seiring terungkapnya fakta bahwa bencana ini dipicu oleh kerusakan hutan akibat praktik ilegal logging dan deforestasi yang dilindungi oleh aparat negara. Banyak pihak menilai pemerintah belum sepenuhnya efektif dalam menegakkan hukum lingkungan dan menghentikan kerusakan hutan yang berlangsung bertahun-tahun.
Selain faktor alam, para ahli lingkungan menekankan pentingnya penegakan hukum dan pengawasan ketat terhadap izin usaha hutan dan tambang. Mereka menilai bahwa bencana seperti ini akan terus berulang jika aparat penegak hukum tidak bertindak tegas terhadap praktik ilegal yang merusak ekosistem.
Sidang kabinet yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto menjadi momentum penting bagi penegakan hukum lingkungan. Dengan menegur langsung Panglima TNI dan Kapolri, pemerintah pusat menunjukkan keseriusan dalam menindak aparat yang terlibat dalam bisnis ilegal logging. WALHI Sumut juga mengingatkan pemerintah untuk lebih serius dalam melindungi ekosistem Batang Toru dan wilayah hutan lainnya di Sumatera.

Mereka menekankan bahwa perlindungan hutan tropis tidak hanya penting untuk konservasi, tetapi juga untuk mencegah bencana ekologis yang merugikan masyarakat luas. Bencana banjir dan longsor di Sumatera tahun ini kembali membuka mata publik mengenai keterkaitan antara kerusakan hutan, pengelolaan sumber daya alam, dan kebijakan pemerintah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dan politik harus selaras dengan perlindungan lingkungan agar tragedi serupa tidak terulang di masa mendatang. Presiden Prabowo mengingatkan, tindakan tegas terhadap aparat yang terlibat dalam praktik ilegal harus segera dilakukan. Hal ini menjadi pesan jelas bahwa tidak ada toleransi terhadap pejabat atau petugas negara yang mengambil keuntungan pribadi dengan merusak lingkungan dan merugikan masyarakat.
Dengan langkah-langkah tegas dari pemerintah, diharapkan ke depan Sumatera dan seluruh Indonesia dapat terhindar dari bencana ekologis serupa. Perlindungan hutan, penegakan hukum, dan kesadaran lingkungan menjadi kunci penting untuk menyelamatkan ekosistem dan kehidupan masyarakat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar