
Produksi Garam di Madura Menurun Akibat Curah Hujan Tinggi
Produksi garam PT Garam (Persero) di wilayah Madura mengalami penurunan signifikan akibat hujan deras yang terus mengguyur sejak awal Oktober 2025. Kondisi ini memengaruhi target produksi yang telah ditetapkan, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan garam nasional.
Target Produksi Tidak Terpenuhi
Dari target produksi sebesar 150 ribu ton, hingga saat ini hanya tercapai sekitar 81 ribu ton. Angka tersebut bahkan belum mencapai 60 persen dari total target tahunan. Penurunan ini disebabkan oleh curah hujan tinggi yang datang lebih cepat dari perkiraan, sehingga mengganggu proses penguapan dan kristalisasi garam di tambak.
“Tahun ini hasilnya memang tidak sebaik tahun lalu. Kami tetap berproduksi, tetapi intensitas hujan tinggi membuat kristalisasi garam terganggu,” ujar Humas PT Garam, Miftahol Arifin.
Dampak pada Produksi Tambak
Curah hujan tinggi yang terus-menerus mengguyur tiga kabupaten utama di Madura—Sampang, Sumenep, dan Pamekasan—menyebabkan sebagian besar tambak garam gagal mencapai hasil optimal. Proses penguapan air asin menjadi sangat terhambat, sehingga tidak semua air bisa berubah menjadi kristal garam.
Berdasarkan data PT Garam, empat lokasi pegaraman di Madura menghasilkan produksi yang timpang. Dua wilayah di Kabupaten Sumenep hanya mampu menyumbang 34,5 ribu ton, Pamekasan sekitar 38,6 ribu ton, dan Sampang hanya 7,8 ribu ton. Angka-angka ini menunjukkan ketidakseimbangan dalam produksi antar daerah.
Upaya Perusahaan untuk Mengatasi Masalah
Meski berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan produksi di sejumlah lokasi, hasil di lapangan tetap jauh dari target yang ditetapkan. Perusahaan pelat merah tersebut kini harus melakukan penyesuaian strategi produksi dan menyusun langkah mitigasi untuk mencegah kerugian lebih besar.
“Kami berharap cuaca segera membaik agar sisa lahan yang masih bisa digunakan dapat dioptimalkan. Kalau hujan terus turun, produksi otomatis berhenti total,” tambah Miftahol.
Ancaman terhadap Pasokan Garam Nasional
Penurunan produksi garam di Madura dikhawatirkan berdampak pada pasokan garam konsumsi dan industri dalam negeri. Sebab, Madura selama ini menjadi salah satu pusat produksi terbesar di Indonesia. Jika kondisi cuaca tidak membaik, ancaman terhadap ketersediaan garam akan semakin nyata.
Perusahaan juga mengungkapkan harapan agar cuaca segera berpihak agar produksi bisa kembali stabil. Dengan demikian, pasokan garam nasional tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan cuaca yang tidak menentu.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar