Produksi Vanili Sumedang Mulai Diburu Pasar Ekspor
Vanili dari Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, kini mulai menarik perhatian pasar ekspor. Pada tahun 2025, hasil panen vanili yang ditanam di wilayah ini sudah ditawarkan oleh pembeli untuk diekspor ke luar negeri. Namun, para petani masih menunggu kesepakatan harga jual yang sesuai dengan harapan mereka.
Usaha pertanian vanili di Sumedang terdapat di Kecamatan Tanjungmedar, yang berada di kaki Gunung Tampomas, serta di Desa Cibueuk Cimalaka. Wilayah ini merupakan bagian dari Kelompok Tani Makmur yang berada di Desa Tanjungwangi. Untuk memastikan kelangsungan produksi vanili, pihak Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat (Disbun Jabar) memberikan perlindungan dan dukungan kepada petani.
Ketua Kelompok Tani Makmur, Tatang Ginandjar, menyampaikan bahwa produksi vanili di Sumedang sudah ada sejak dua generasi. Bahkan, stok buah vanili siap jual sudah tersedia dari para petani. Namun, kendala utama yang dihadapi adalah belum adanya pasar yang cocok.
“Beberapa permintaan dari luar negeri sudah datang. Kami mencoba mengirimkan sampel vanili ke luar negeri melalui rekan-rekan kami. Harga yang ditawarkan adalah Rp 800.000/kg, tetapi hingga saat ini belum ada yang bisa menerima,” ujarnya.
Selain vanili, usaha kebun rakyat di Tanjungmedar juga mencakup komoditas lain seperti kakao, cabe jamu, lada, kencur, kapulaga, serta beberapa rempah-rempah unggulan lainnya.

Penguatan Perlindungan Tanaman Vanili
Dalam hal pembinaan, Disbun Jabar telah memberikan pelatihan tentang penggunaan Agen Pengendali Hayati (APH) kepada petani. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tanaman vanili dan menjaga daya tahan terhadap hama.
Kepala Balai Perlindungan Perkebunan (BPP) Disbun Jabar, Mochamad Sopian Ansori, hadir langsung di lokasi untuk berdiskusi dengan para petani di Kelompok Tani Makmur. Ia menjelaskan bahwa pelatihan perbanyakan dan penyebaran APH telah dilakukan di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Tanjungmedar, Kabupaten Sumedang.
“Kami melakukan pelatihan perbanyakan dan penyebaran APH di Kelompok Tani Makmur di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang,” ucap Moch. Sopian Ansori.
Menurut beberapa pebisnis agro di Bandung, sejak tahun 2024, permintaan vanili dunia kembali mengarah ke Indonesia. Hal ini disebabkan oleh situasi produksi vanili di Madagaskar yang tidak stabil.
Kembalinya minat pasar internasional terhadap vanili Indonesia diharapkan dapat didukung oleh komitmen petani dalam menjaga mutu produk. Dengan kualitas yang baik, vanili Sumedang diharapkan dapat kembali dipercaya oleh konsumen global.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar