
Protes Suporter terhadap Kebijakan Tayangan Berbayar Timnas Indonesia
Beberapa ribu suporter sepak bola Indonesia mengungkapkan kekecewaan terhadap kebijakan tayangan berbayar yang diterapkan oleh PSSI di kanal YouTube resmi Timnas Indonesia. Kelompok suporter La Grande Indonesia (LGI) menilai bahwa konten tentang Timnas seharusnya menjadi milik publik, bukan dikunci di balik sistem langganan komersil.
Kebijakan ini mulai diberlakukan sejak tahun lalu, di mana setiap pengguna harus membayar Rp19 ribu per bulan untuk bisa mengakses konten eksklusif dari skuad Garuda. Konten tersebut mencakup seluruh aktivitas Timnas Indonesia, termasuk tim senior, kelompok usia, dan Timnas Putri. Bahkan, penonton yang sudah membeli tiket pertandingan tetap harus membayar agar bisa menonton tayangan digital.
“Timnas Itu Domain Publik!”
Ilham Harahap, Koordinator Divisi Media dan Komunikasi La Grande Indonesia, menyampaikan bahwa konten Timnas seharusnya bisa diakses secara gratis oleh masyarakat. Ia menjelaskan bahwa Timnas adalah domain publik, kecuali siaran yang bisa dibagi dengan pihak ketiga.
“Harusnya, Timnas itu kan domain publik ya. Kecuali siaran lah ya. Karena siarannya bisa dibagi dengan pihak ketiga,” ujarnya dalam wawancara dengan Tribunnews.
Ia juga menyoroti bahwa bahkan untuk menonton highlight futsal pun harus berlangganan. “Kami juga yang kemarin futsal harus berbayar. Terus mau nonton full highlight juga harus berbayar. Kayaknya tidak begitu cara cari uangnya. Harusnya ada opsi lain,” tambahnya.
Monetisasi Harusnya Lewat Iklan
Menurut Ilham, monetisasi seharusnya bisa dilakukan melalui iklan tanpa membebani penonton. Ia berharap PSSI mempertimbangkan keinginan suporter agar cuplikan konten Timnas bisa dinikmati masyarakat luas.
“Iklan produk kan banyak yang masuk ke Timnas dan ke pemain. Seharusnya langsung saja hard-selling di bagian highlight, itu enggak masalah buat penonton. Tapi kalau semua harus berbayar, ya nanti apa-apa jadi bayar terus,” jelasnya.
Siapa La Grande Indonesia?
La Grande Indonesia (LGI) adalah salah satu komunitas suporter fanatik pendukung Timnas Sepak Bola Indonesia, terutama di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Didirikan pada 11 November 2011, LGI berawal dari komunitas fans Inter Milan dan berkembang menjadi gerakan nasional yang dikenal lewat aksi visual seperti tifo, koreografi, dan chant.
Mereka menempati tribun utara GBK dan aktif menyuarakan isu publik seperti akses tayangan Timnas, harga tiket, dan transparansi federasi PSSI. Basis massa LGI mencapai ribuan anggota terdaftar dari berbagai kalangan, dengan struktur komunitas yang solid dan kehadiran aktif di media sosial.
Dalam berbagai laga penting, seperti melawan Jepang dan Bahrain, LGI menunjukkan dedikasi visual yang menjadi sorotan nasional. Mereka juga terlibat dalam advokasi publik, termasuk tuntutan terhadap PSSI terkait pelatih dan hak siar.
Dengan rekam jejak lebih dari satu dekade, LGI telah menjadi simbol dukungan akar rumput yang militan, kreatif, dan sadar isu. Mereka terus berjuang untuk memastikan bahwa konten sepak bola Indonesia dapat diakses oleh semua masyarakat, bukan hanya mereka yang mampu membayar.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar