Proyeksi Rupiah Jelang Perundingan AS-Iran, Kamis (26/2/2026)

Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS

Nilai tukar rupiah mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Rabu, 25 Februari 2026. Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat sebesar 0,17% secara harian menjadi Rp 16.800 per dolar AS. Sementara itu, Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatatkan bahwa rupiah menguat sebesar 0,10% menjadi Rp 16.813 per dolar AS.

Faktor Pendorong Penguatan Rupiah

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah didukung oleh sentimen risk on dan aliran dana asing yang masuk ke pasar ekuitas domestik. Selain itu, indeks DXY juga mengalami penurunan merespons pidato Presiden AS, Donald Trump, yang menyatakan tidak akan ada perubahan dalam kebijakan tarifnya.

Lukman memperkirakan bahwa rupiah akan berkonsolidasi dalam waktu dekat, dengan investor sedang mengantisipasi perundingan antara AS dan Iran. Ia menambahkan bahwa tidak ada data ekonomi penting yang dirilis baik secara internal maupun eksternal. Namun, ada jadwal pidato oleh beberapa pejabat Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan mengulangi sikap hawkish mereka.

Menurut prediksi Lukman, rupiah pada hari Kamis (26/2/2026) akan bergerak di kisaran Rp 16.750 hingga Rp 16.900 per dolar AS.

Perspektif dari Pengamat Mata Uang

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa ekspektasi suku bunga AS akan tetap tinggi. Presiden Federal Reserve Boston, Susan Collins, menyatakan bahwa suku bunga kemungkinan akan tetap tidak berubah "untuk beberapa waktu”. Hal ini didasarkan pada data ekonomi terbaru yang menunjukkan perbaikan di pasar tenaga kerja, meskipun risiko inflasi masih ada.

Pejabat Federal Reserve Chicago, Austin Goolsbee, juga menolak ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, dengan alasan bahwa suku bunga harus tetap tidak berubah karena inflasi masih berada di atas target 2% dari Fed.

Raphael Bostic, pejabat Federal Reserve Atlanta, juga mengemukakan pendapat serupa, menekankan perlunya menjaga inflasi sebagai fokus utama.

Pengaruh Rating Moody’s terhadap Rupiah

Dari dalam negeri, Ibrahim melihat bahwa rupiah dipengaruhi oleh pemberian rating oleh Moody’s. Moody's Ratings (Moody's) telah memberikan peringkat Baa2 terhadap obligasi berdenominasi yuan offshore China dan euro yang diterbitkan pemerintah Indonesia dengan mekanisme shelf registration (obligasi berkelanjutan) senilai US$ 10 miliar.

Secara fundamental, Moody’s masih menilai bahwa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang memadai. Dukungan dari kekayaan sumber daya alam serta struktur demografi yang relatif menguntungkan menjadi bantalan pertumbuhan jangka menengah.

Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi riil Indonesia akan bertahan di kisaran 5% dalam beberapa tahun ke depan, dengan defisit fiskal tetap berada di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Dalam kerangka makro konvensional, ini merupakan indikator stabilitas yang selama dua dekade terakhir menopang kepercayaan investor terhadap surat utang pemerintah Indonesia,” kata Ibrahim.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Ibrahim memproyeksikan bahwa rupiah pada hari Kamis (26/2/2026) akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada rentang Rp 16.800 hingga Rp 16.830 per dolar AS.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan