
aiotrade,
JAKARTA — Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) meluncurkan inisiatif bernama Ekraf Peduli sebagai strategi untuk membantu pemulihan sosial-ekonomi masyarakat di wilayah Sumatera yang terdampak banjir dan longsor. Inisiatif ini bertujuan mengaktifkan kembali sektor ekonomi kreatif sebagai motor penggerak pascabencana.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa sektor ekonomi kreatif memiliki peran penting dalam memulihkan roda ekonomi masyarakat pasca-bencana. Ia menyampaikan bahwa melalui program Ekraf Peduli, pihaknya ingin memastikan pemulihan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mengembalikan semangat usaha, kreativitas, dan daya juang masyarakat agar bisa pulih bersama dan bangkit secara mandiri.
“Ekraf Peduli dirancang untuk memastikan bahwa pemulihan tidak hanya berupa perbaikan infrastruktur, tetapi juga membangkitkan kembali kepercayaan diri dan kemampuan masyarakat dalam menjalankan usaha mereka,” ujar Riefky dalam pernyataannya.
Pada tahap awal rehabilitasi, Kemenekraf aktif menghadirkan Ruang Kreatif Merah Putih sebagai pusat pengembangan kreativitas dan memberikan pelatihan literasi bisnis kepada pelaku ekonomi kreatif yang terdampak bencana. Pelatihan ini mencakup akses pembiayaan, pendanaan, serta pendampingan usaha untuk memastikan kelangsungan hidup para pelaku industri kreatif.
Selain itu, Kemenekraf juga menggelar berbagai program lain seperti pelatihan konten digital dengan tema pemulihan bencana, penguatan musik lokal, sinema rakyat, permainan edukatif kreatif, hingga aktivitas seni berbasis komunitas dan anak-anak. Program-program ini bertujuan untuk memperkuat keterampilan dan membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya kreativitas dalam pemulihan.
Memasuki tahap rekonstruksi, fokus program bergeser pada peningkatan kapasitas produksi dan penciptaan nilai tambah. Berbagai kegiatan dilakukan, termasuk pelatihan kriya, batik lokal, sulam dan anyam, workshop desain kemasan, pelatihan memasak, menjahit ready to wear, serta pengembangan kewirausahaan digital. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing masyarakat di wilayah terdampak.
Selain itu, kreativitas berbasis teknologi, media, budaya, dan desain juga didorong sebagai motor pemulihan ekonomi jangka menengah. Dengan menggabungkan inovasi dan tradisi, diharapkan masyarakat dapat membangun kembali ekonomi mereka dengan cara yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 5 Januari 2026, bencana banjir dan longsor telah menimpa 52 kabupaten/kota di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Angka ini menunjukkan dampak luas dari bencana alam tersebut, yang memerlukan upaya pemulihan yang serius dan terkoordinasi.
Dalam rapat koordinasi Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri pada Kamis (15/1/2026), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menekankan pentingnya percepatan pengelolaan data lintas kementerian dan pemerintah daerah di wilayah terdampak.
Integrasi data dinilai sangat krusial untuk memastikan efektivitas kebijakan pemulihan. “Percepatan ekstra dalam pengelolaan data sangat penting agar dapat melakukan pendataan, pemutakhiran, integrasi, akses dan interoperabilitas serta pemanfaatan data Kementerian/Lembaga dan Pemda wilayah terdampak,” tutur Pratikno.
Ia menambahkan bahwa tujuan utama adalah menciptakan sistem data tunggal dengan dashboard yang terintegrasi. Hal ini akan memudahkan pemerintah dalam mengambil keputusan dan memastikan distribusi bantuan serta program pemulihan dapat dilakukan secara efisien dan tepat sasaran.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar