Purbaya Akui Pemulihan Ekonomi Tidak Cepat Seperti Diharapkan


JAKARTA – Pada awal bulan September 2025, Purbaya Yudhi Sadewa secara resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan. Ia menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Setelah menjabat, Purbaya mengakui adanya perbedaan antara ekspektasi dan realitas saat ia mulai memegang peran sebagai bendahara negara.

Dari sisi kebijakan, Purbaya awalnya yakin bahwa perubahan yang diambil akan segera memperbaiki kondisi ekonomi dalam negeri. Keyakinan ini muncul karena ruang fiskal masih tersedia. Namun, perkembangan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan. Pemulihan ekonomi berjalan lebih lambat dari yang diperkirakan.

“Kita melihat kondisi ekonomi pada Agustus hingga September turun ke level yang sangat rendah. Kita tahu bahwa jika tidak dibalik, stabilitas sosial dan politik akan terganggu,” ujar Purbaya saat ditemui di Menara IDN HQ, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).

Tekanan ekonomi muncul bersamaan dengan situasi sosial. Gelombang demonstrasi mulai mereda setelah memanas pada akhir Agustus 2025. Kondisi tersebut memberi dampak pada aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Perlambatan ekonomi tidak hanya berasal dari sektor perbankan. Likuiditas dinilai tidak mengalir ke aktivitas ekonomi riil. Meskipun perbankan memiliki dana yang cukup, penyalurannya belum optimal ke sektor produktif.

Pada awal masa jabatannya, Purbaya yakin bahwa pemulihan akan terlihat dalam hitungan minggu setelah kebijakan diambil. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses tersebut menghadapi sejumlah hambatan.

Salah satu kebijakan yang dimaksud adalah penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun ke bank-bank Himpunan Bank Milik Negara pada 12 September 2025. Penempatan tersebut terdiri dari Rp 55 triliun masing-masing ke Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan Bank Rakyat Indonesia. Dana sebesar Rp 25 triliun ditempatkan di Bank Tabungan Negara. Bank Syariah Indonesia menerima Rp 10 triliun.

Hambatan lain muncul dari kebutuhan penyelarasan kebijakan fiskal dan moneter. Pengetatan moneter membuat pemulihan tidak sekuat perkiraan, terutama pada kuartal IV. Kondisi ini memengaruhi kecepatan transmisi kebijakan ke sektor riil.

Koordinasi dengan Bank Indonesia terus dilakukan. Tujuannya adalah mencari keseimbangan peran antara kebijakan fiskal dan moneter agar pemulihan lebih efektif.

Purbaya menilai bahwa kondisi pasar kini bergerak ke arah yang lebih aman. Sinyal pemulihan paling cepat terlihat di pasar keuangan. Pasar modal dan obligasi biasanya merespons lebih awal dibandingkan sektor perbankan.

“Hitungan saya, dana Rp 200 triliun itu menimbulkan pertumbuhan uang M0 sekitar 13 persen. Harusnya kredit di akhir tahun tumbuh double digit juga. Tapi karena mungkin ada miskomunikasi, atau sinyal saya tidak diikuti, penyerapan baru mulai bertahap di minggu-minggu berikutnya,” ujar Purbaya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan