Realisasi investasi naik 12,7% tahun lalu, apa proyeksi 2026?

Realisasi Investasi Tahun 2025

Realisasi investasi pada tahun 2025 meningkat sebesar 12,7% dibandingkan dengan tahun 2024, mencapai angka Rp 1.931,2 triliun. Pertanyaannya adalah, bagaimana prospek investasi di tahun ini?

Wakil Komite Tetap Kajian Global Spillover Kadin Indonesia, Josua Pardede, menilai bahwa investasi akan tetap menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Ia menjelaskan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga sebesar 55% dan investasi sebesar 30%.

“Struktur pertumbuhan ekonomi masih sama, didominasi konsumsi rumah tangga 55% dan investasi 30%,” ujar Josua dalam diskusi Kadin Global and Domestic Economic Outlook 2026, yang diselenggarakan pada hari Kamis (15/1).

Untuk memperkuat posisi tersebut, pemerintah terus melanjutkan reformasi struktural serta penguatan ekosistem investasi. Selain itu, pembangunan infrastruktur dasar dan konektivitas juga terus dilakukan, termasuk pembangunan Ibu Kota Nusantara atau IKN dan proyek strategis nasional.

Pemerintah juga berkomitmen untuk mengoptimalkan BPI Danantara guna menarik investasi strategis dan mobilisasi aset negara. Menurut Josua, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% tidak akan tercapai jika investasi tidak dapat digerakkan secara maksimal.

Peran Investasi Swasta

Investasi swasta dinilai sebagai pengungkit utama pertumbuhan ekonomi. Josua menegaskan bahwa peran dari investasi swasta sebenarnya masih yang paling dominan, namun sebenarnya yang menjadikan gerakan besar masih adalah investasi swasta.

“Peran dari investasi swasta sebenarnya masih yang paling dominan, namun sebenarnya yang menjadikan gerakan besar masih adalah investasi swasta,” katanya.

Tantangan Utama Investasi

Dalam paparannya, Josua menyebutkan empat tantangan utama yang dihadapi investasi pada tahun 2026:

  1. Inefisiensi investasi atau Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang tinggi. ICOR mengukur efisiensi investasi dalam perekonomian. Rasio ini menunjukkan seberapa banyak tambahan modal atau investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu unit tambahan output atau pertumbuhan ekonomi.

“ICOR Indonesia sekitar 6-6,3 pada 2023, ini menandakan bahwa setiap tambahan 1% pertumbuhan membutuhkan investasi yang jauh lebih besar dibanding negara pesaing,” ujarnya.

  1. Iklim usaha dan kepastian regulasi. Skor B-Ready 2024 menunjukkan perlunya perbaikan besar dalam perizinan dan kepastian usaha. Selain itu, perlindungan investor minoritas dan efisiensi proses hukum juga menjadi isu penting.

  2. Lingkungan foreign direct investment (FDI) yang lesu. Penanaman modal asing masih menghadapi tantangan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

  3. Keterbatasan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta kebutuhan pembiayaan yang sangat besar.

Tiga Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menjaga stabilitas nasional, serta memastikan pemerataan manfaat pembangunan bagi seluruh masyarakat.

Untuk mencapai visi tersebut, pemerintah mengandalkan tiga mesin pertumbuhan utama yakni fiskal, sektor keuangan, dan investasi. Ketiganya diharapkan dapat bergerak selaras dan saling memperkuat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Asta Cita menuntut pertumbuhan tinggi, stabilitas nasional, dan pemerataan manfaat pembangunan. Mesin pertumbuhan harus bekerja selaras. Mesin fiskal, mesin sektor keuangan, dan investasi,” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja Nasional Kejaksaan Agung yang dilaksanakan secara daring, Selasa (13/1).

Di sektor fiskal, pemerintah berkomitmen mengoptimalkan belanja negara agar dilaksanakan tepat waktu, tepat sasaran, dan bebas dari kebocoran. Sementara itu, di sektor keuangan, pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan bank sentral agar kebijakan moneter sejalan dengan kebijakan fiskal.

Dari sisi investasi, pemerintah telah membentuk satuan tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah untuk mengatasi debottlenecking investasi melalui mekanisme penyelesaian hambatan investasi secara rutin. Setiap pekan, pemerintah menggelar sidang untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha di Indonesia, sehingga iklim investasi dapat semakin kondusif.

“Saya pikir nanti kalau tiga sistem itu, sistem fiskal, moneter, dan investasi sudah jalan baik, kita bisa tumbuh lebih cepat,” ujar Purbaya.

Untuk mendukung Visi Indonesia Emas 2045, APBN 2026 diarahkan bersifat ekspansif namun tetap terukur, dengan fokus pada delapan agenda prioritas. Belanja negara ditujukan untuk memberikan dampak langsung kepada masyarakat, memperkuat fondasi jangka panjang, serta meningkatkan produktivitas nasional.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan