
Rencana Penggabungan Garuda Indonesia dengan Pelita Air
Badan Pengelola Investasi Daya Anak Nusantara atau Danantara Indonesia menyatakan bahwa rencana penggabungan usaha antara PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan Pelita Air direncanakan selesai pada semester pertama 2026. Sebelumnya, Danantara mengungkapkan bahwa proses penggabungan ini diharapkan selesai pada kuartal pertama 2026.
Setelah aksi korporasi tersebut, Garuda Indonesia akan menjadi holding maskapai pelat merah. Managing Director Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menjelaskan bahwa rencana holdingisasi maskapai antara Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional serta menciptakan integrasi yang lebih baik.
Dengan skema ini, ketiga maskapai akan memiliki sistem pemesanan satu pintu, hingga program loyalitas terintegrasi seperti Garuda Points dan mileage, serta sistem registrasi penumpang yang sama. Selain itu, penggabungan ini juga memungkinkan pengaturan kursi penerbangan yang lebih fleksibel antar maskapai dalam satu grup.
Melalui sistem ini, penumpang dari penerbangan Garuda Indonesia yang kelebihan pemesanan (overbook) dapat langsung dialihkan ke penerbangan Citilink atau Pelita Air. Rohan menilai skema ini lebih efisien dibandingkan harus mengalihkan penumpang ke maskapai lain di luar grup seperti Batik Air atau Lion Air.
Selain itu, penggabungan ekosistem maskapai juga akan memperbesar total armada di bawah Garuda Indonesia. “Tujuannya adalah optimalisasi sistem booking satu, dan jumlah pesawat jadi lebih banyak jika bergabung,” ujar Rohan dalam Exclusive Group Interview di Gedung Danantara, Jakarta, Kamis (26/2).
Optimasi Rute dan Peningkatan Pendapatan
Rohan juga menjelaskan bahwa penggabungan maskapai dilakukan untuk mengoptimalkan rute yang sama yang saat ini dilayani oleh beberapa maskapai sekaligus. Misalnya, rute ke Surabaya semuanya ada di pesawat Citilink, Pelita Air, dan Garuda Indonesia.
Menurut Rohan, jika masing-masing penerbangan hanya terisi sekitar 60%, maka melalui penggabungan dalam satu holding penerbangan ini bisa lebih optimal menjadi satu penerbangan. “Jadi kapannya hopefully ya segera ya di semester I 2026 ya karena itu sangat krusial untuk mendapatkan extra income tanpa menambah pesawat,” ucap Rohan.
Mencegah Kanibalisme Pasar
Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara Febriany Eddy sebelumnya menyatakan bahwa rencana merger kedua maskapai ini perlu dilakukan untuk memastikan tidak terjadinya kanibalisme. Menurut dia, Garuda dan Citilink tidak diperbolehkan saling mengambil pasar.
“Tadi kuncinya adalah dalam rencananya pasti akan dipastikan untuk tidak saling cannibal. Orang Garuda–Citilink aja kami tidak izinkan, apalagi nanti Pelita,” ujar Febri di Kantor Danantara, Jumat (14/11).
Febri menekankan bahwa langkah penggabungan usaha perlu dieksekusi dulu sebelum lanjut ke tahapan berikutnya. Bagian terpenting dari proses streamline adalah menghilangkan kompetisi internal dan potensi saling kanibal.
“Nah bagaimana segmentasinya, branding-nya itu tunggu lah, tunggu,” kata Febri.
Febriany juga menilai Pelita Air memiliki banyak praktik baik yang dapat diadopsi oleh entitas lain di maskapai. “Likewise ada best practice di Citilink dan Garuda yang harus menjadi manfaat dari Pelita Air. Jadi disitu kami saling memperkuat diri,” ujar Febri.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar