Respons Polytron Terkait Penghapusan Insentif Mobil Listrik


Pemerintah akan menghapus insentif mobil listrik mulai tahun depan. Direktur Komersial Polytron, Tekno Wibowo, mengatakan tidak terlalu khawatir dengan kebijakan yang ditetapkan pemerintah soal penghentian kebijakan tersebut.

Polytron sebagai salah satu merek elektronik terkemuka di Tanah Air yang kini mulai merambah ke sektor electric vehicle (EV), menurut dia, tidak terkena imbas penghapusan insentif tersebut. Pasalnya, insentif yang nanti akan dihilangkan pada 2026 yakni untuk penjualan mobil listrik yang didatangkan dari luar negeri dengan sistem completely built up (CBU), atau mobil produksi luar negeri yang diimpor langsung dan sudah siap pakai.

"Insentif yang tidak berlaku itu adalah insentif untuk penjualan mobil listrik yang didatangkan secara built up yang sudah jadi CBU. Jadi itu yang berhenti sampai Desember (2025) ini," kata Tekno setelah meresmikan pembukaan showroom mobil listrik besutannya di Bandung pada Selasa, 16 Desember 2025.

Sedangkan pemerintah masih akan memberikan insentif untuk mobil listrik seperti insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 10 persen. PPN DTP itu termuat dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12 Tahun 2025. "Untuk insentif yang lain seperti PPN yang ditanggung pemerintah itu masih berjalan, setahu saya, belum ada instruksi dari pemerintah bahwa itu akan berhenti," tutur Tekno.

Alhasil, Tekno melanjutkan, Polytron tidak terlalu risau dengan informasi yang menyebutkan insentif mobil listrik akan dihapus oleh pemerintah. Sebab, Polytron merupakan perusahaan elektronik yang kini ikut terjun ke dalam bisnis kendaraan listrik, tidak melakukan CBU tapi melakukan perakitan dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melebihi 40 persen.

"Buat Polytron karena sudah dirakit di sini harusnya enggak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah mereka yang memakai insentif completely built up tadi sehingga masuknya dinolkan, makanya mulai tahun depan kalau mereka masih jualan, mereka harus sudah memulai produksinya di Indonesia," ujar Tekno.

Sejak Mei 2025, Polytron resmi merilis mobil listrik G3 dan G3+. Perusahaan elektronik yang sudah berdiri setengah abad itu, ikut meramaikan bursa mobil listrik di dalam negeri. Meski persaingan kendaraan listrik kian ketat, ia yakin Polytron tak kalah dengan merek-merek mobil listrik lainnya seperti BYD, Vinfast, Wuling, dan lainnya.

"Ya kami melihatnya ada gula, ada semut. Kalau ada peluang, pasti banyak merek yang masuk," tuturnya. "Tapi kalau kita lihat dalam sejarahnya, misalkan dari Cina, dari 500 merek yang ada, hari ini sudah tinggal 50-an. Pasti akan ada hukum alam, nanti yang bisa bertahan yang benar-benar produknya bagus, servisnya bagus."

Strategi Polytron dalam Pasar Mobil Listrik

Polytron telah mempersiapkan strategi khusus untuk menghadapi tantangan di pasar mobil listrik. Salah satunya adalah fokus pada produksi lokal dengan tingkat komponen dalam negeri yang tinggi. Hal ini membantu perusahaan untuk tetap menjaga kualitas produk sekaligus mendukung perekonomian nasional.

Selain itu, Polytron juga berkomitmen untuk meningkatkan layanan purna jual agar konsumen merasa puas. Ini menjadi faktor penting dalam bersaing dengan merek-merek besar lainnya.

Kesiapan Produksi Lokal

Tekno menegaskan bahwa Polytron sudah memiliki kemampuan untuk memproduksi kendaraan listrik secara mandiri. Proses perakitan dilakukan di dalam negeri dengan menggunakan komponen lokal. Hal ini membuat perusahaan tidak tergantung pada impor, sehingga lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan regulasi.

Kemampuan produksi lokal juga memberikan keuntungan dalam hal biaya. Dengan mengurangi ketergantungan pada impor, Polytron dapat menawarkan harga yang kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.

Perkembangan Pasar Mobil Listrik

Pasar mobil listrik di Indonesia terus berkembang pesat. Berbagai merek ternama mulai memperluas jaringan dan memperkenalkan model baru. Polytron mengakui bahwa persaingan sangat ketat, namun ia percaya bahwa inovasi dan kualitas produk akan menjadi kunci keberhasilan.

Selain itu, Polytron juga berupaya membangun kesadaran masyarakat tentang manfaat mobil listrik. Edukasi dan promosi dilakukan melalui berbagai saluran, termasuk media sosial dan acara pameran.

Tantangan dan Peluang

Meski ada tantangan, Tekno optimis bahwa Polytron dapat memanfaatkan peluang di pasar mobil listrik. Ia mengatakan bahwa industri ini masih dalam tahap awal, sehingga ada ruang bagi perusahaan-perusahaan baru untuk berkembang.

"Kita harus bersabar dan terus belajar. Saya yakin, jika kita konsisten, maka kita akan bisa bertahan dan berkembang," katanya.

Kesimpulan

Dengan strategi yang jelas dan komitmen terhadap kualitas, Polytron siap menghadapi tantangan di pasar mobil listrik. Meskipun ada perubahan regulasi, perusahaan tetap optimis karena telah mempersiapkan diri dengan baik. Dengan fokus pada produksi lokal dan layanan yang baik, Polytron berharap dapat menjadi salah satu pemain utama di industri ini.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan