Rupiah melemah mendekati Rp 17.000 per dolar di tengah tekanan global

Rupiah Kembali Melemah di Akhir Pemodalan Senin

Pada penutupan perdagangan Senin (19/1) sore ini, nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan. Mata uang Garuda ditutup melemah seiring meningkatnya sentimen negatif global, terutama dari Amerika Serikat dan Eropa, serta kekhawatiran domestik terkait kondisi fiskal Indonesia.

Rupiah pada hari ini ditutup melemah 68 poin ke level Rp 16.955 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 75 poin. Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 16.896 per dolar AS. Pelemahan ini menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tantangan dalam menghadapi dinamika pasar global.

Pengaruh Ketegangan Geopolitik dan Perdagangan Global

Menurut pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, pelemahan rupiah tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik dan perdagangan global. Salah satu pemicunya adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan memberlakukan tarif baru terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana AS mengakuisisi Greenland.

“Trump menyatakan tarif sebesar 10 persen akan mulai diberlakukan pada 1 Februari, dan berpotensi naik hingga 25 persen pada Juni apabila tidak tercapai kesepakatan. Negara-negara besar seperti Prancis, Jerman, dan Inggris menjadi sasaran. Ini memicu kekhawatiran sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.

Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin ragu bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga secara agresif tahun ini.

“Kontrak berjangka dana Fed kini menunda ekspektasi pemotongan suku bunga ke Juni dan September, dari sebelumnya Januari dan April. Ini memperkuat pandangan bahwa suku bunga tinggi akan dipertahankan lebih lama, sehingga dolar AS kembali menguat,” jelasnya.

Kondisi Ekonomi Asia dan Dalam Negeri

Dari kawasan Asia, data terbaru menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0 persen sepanjang tahun lalu, sesuai target pemerintah. Meski demikian, pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang oleh ekspor, sementara konsumsi domestik masih lemah.

Sementara dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga tertekan oleh kekhawatiran fiskal. Ibrahim menyoroti upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2029 di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai berpotensi menimbulkan risiko jangka menengah.

“Kebijakan yang relatif tidak lazim berisiko memicu sentimen negatif terhadap rupiah, terlebih setelah terungkap defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum 3 persen, sementara penerimaan negara masih lemah,” jelasnya.

Upaya Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Meskipun Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar DNDF dan NDF untuk menahan volatilitas, ruang kebijakan dinilai semakin terbatas. Toleransi BI terhadap pelemahan rupiah yang moderat juga membatasi efektivitas intervensi.

Untuk menopang rupiah, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada rapat kebijakan Rabu mendatang. Selain itu, bank sentral telah mengoptimalkan berbagai instrumen, mulai dari intervensi valas, penyesuaian penerbitan surat berharga, hingga pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Di sisi lain, rencana pemerintah memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE) dinilai dapat menjadi bantalan bagi rupiah. Namun, kekhawatiran tetap ada karena defisit fiskal tahun ini berpotensi melebar melampaui 3 persen seiring meningkatnya belanja negara di tengah lemahnya penerimaan pajak.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

“Untuk perdagangan besok, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, berada di kisaran Rp 16.950 hingga Rp 16.980 per dolar AS,” tukasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan