
Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS
Nilai tukar rupiah mengalami penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis, 15 Januari 2026. Berdasarkan data dari pasar spot, rupiah melemah sebesar 0,18% secara harian menjadi Rp 16.896 per dolar AS. Dalam seminggu terakhir, rupiah spot turun sekitar 0,46% dibandingkan posisi akhir pekan lalu yang berada di Rp 16.819 per dolar AS.
Sementara itu, menurut data Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga mengalami pelemahan sebesar 0,05% menjadi Rp 16.880 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang berasal dari berbagai faktor eksternal dan internal.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Menurut pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, pergerakan rupiah dalam seminggu terakhir dipengaruhi oleh beberapa sektor utama. Salah satunya adalah data indeks harga konsumen (CPI) AS. CPI inti di AS naik sebesar 0,2% pada bulan Desember, dengan kenaikan tahunan sebesar 2,6%, yang lebih rendah dari perkiraan. Hal ini memperkuat spekulasi bahwa suku bunga AS akan mengalami penurunan di masa depan.
Selain itu, sentimen geopolitik juga turut memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah. Ketegangan antara AS dan Venezuela serta aksi demonstrasi di Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah. Protes anti-pemerintah di Iran telah menyebabkan kematian sekitar 2.000 orang, sehingga memicu peringatan dari Presiden AS Donald Trump. Ia mengancam akan mengenakan tarif 25% kepada negara-negara yang berbisnis dengan Iran.
Tak hanya itu, isu tentang independensi bank sentral AS juga menjadi perhatian. Kekhawatiran ini muncul setelah pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell. Namun, para kepala bank sentral dan eksekutif bank besar secara terbuka mendukung Powell, menekankan pentingnya menjaga otonomi Fed di tengah tekanan politik.
Prediksi Pergerakan Rupiah
Taufan Dimas Hareva, Research and Development ICDX, mengatakan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup terasa karena dominasi dolar AS. Meski begitu, ada potensi stabilisasi jika sentimen global membaik dan tidak ada tekanan eksternal yang signifikan.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan ke depan antara lain rilis data ekonomi AS seperti inflasi dan data tenaga kerja. Selain itu, arah kebijakan The Federal Reserve akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan dolar AS. Dinamika geopolitik global dan pergerakan imbal hasil US Treasury juga menjadi faktor penting.
Dari dalam negeri, pasar akan memantau respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Selain itu, pergerakan arus modal asing akan sangat menentukan arah rupiah dalam jangka pendek.
Proyeksi Nilai Tukar Rupiah
Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa rupiah dalam seminggu ke depan akan berada di kisaran Rp 16.840 hingga Rp 17.000 per dolar AS. Sementara itu, Taufan Dimas Hareva memperkirakan bahwa rupiah selama sepekan ke depan masih akan fluktuatif dengan kecenderungan bergerak di rentang Rp 16.750 hingga Rp 17.000 per dolar AS.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar