
Rupiah Kembali Melemah di Awal Pekan, Kekhawatiran Pasar Menggelora
Pada awal pekan ini, rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan pemerintah dan kondisi fiskal Indonesia. Pada perdagangan Senin (19/1/2026), rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 16.955 per dolar AS, melemah sebesar 0,40% dibandingkan akhir pekan lalu yang berada di Rp 16.886 per dolar AS.
Di sisi lain, rupiah juga mengalami penurunan di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Pada hari yang sama, Jisdor berada di level Rp 16.935 per dolar AS, melemah 0,33% dari perdagangan sebelumnya yang ada di Rp 16.880 per dolar AS.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Ahli ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan pemerintah dan kondisi fiskal Indonesia dalam jangka menengah. Menurutnya, upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8% pada 2029 berpotensi diiringi dengan kebijakan yang relatif tidak lazim dan menimbulkan risiko tambahan bagi stabilitas makroekonomi.
“Demi mendukung agenda pertumbuhan Presiden Prabowo Subianto di tahun 2029 sebesar 8%, pemerintah akan mencoba menerapkan kebijakan yang relatif tidak lazim sehingga adanya risiko jangka menengah yang lebih besar. Hal ini dapat memicu sentimen negatif lanjutan terhadap rupiah,” ujar Ibrahim.
Selain faktor kebijakan, tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh kembali mencuatnya kekhawatiran mengenai kesehatan fiskal Indonesia. Pada 8 Januari 2026, terungkap bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum sebesar 3%, sementara penerimaan negara masih tergolong lemah.
Langkah BI untuk Stabilisasi Rupiah
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) dinilai masih aktif melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk mengendalikan volatilitas nilai tukar. BI secara rutin melakukan intervensi baik di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-Deliverable Forward (NDF).
Namun demikian, Ibrahim menilai terdapat keterbatasan dari sisi kebijakan. Toleransi BI terhadap pelemahan rupiah yang masih tergolong moderat dapat membatasi efektivitas intervensi di pasar valuta asing.
Guna menopang stabilitas rupiah, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 21 Januari 2026. Selain kebijakan suku bunga, BI juga telah mengerahkan berbagai instrumen lain, mulai dari penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral, intervensi di pasar valas, hingga pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Perkembangan Terkini
Di sisi lain, rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE) dinilai berpotensi memberikan bantalan tambahan bagi rupiah. Kendati demikian, kekhawatiran pasar belum sepenuhnya mereda.
“Para analis masih mengkhawatirkan defisit fiskal tahun ini yang berpotensi melebar melampaui batas hukum 3%, seiring dengan upaya pemerintah meningkatkan belanja di tengah penerimaan pajak yang masih lemah,” ujar Ibrahim.
Proyeksi Perdagangan Selasa
Untuk perdagangan Selasa (20/1/2026), Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak relatif terbatas dengan kecenderungan masih tertekan, di kisaran Rp 16.950–Rp 16.980 per dolar AS.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar