Rupiah Naik Hari Ini: Prediksi Pergerakannya Besok (26/2)


aiotrade.CO.ID – JAKARTA.

Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali mengalami penurunan pada perdagangan hari Kamis (26/2/2026). Sebelumnya, rupiah ditutup dengan penguatan sebesar 0,17% secara harian, berada di posisi Rp 16.800 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data dari Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,10% secara harian, mencapai Rp 16.813 per dolar AS. Meskipun ada sedikit penguatan, para analis memperkirakan bahwa tekanan terhadap rupiah akan kembali muncul dalam beberapa waktu ke depan.

Menurut pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, ekspektasi suku bunga AS tetap tinggi. Presiden Federal Reserve Boston, Susan Collins, menyatakan bahwa suku bunga kemungkinan besar akan tetap tidak berubah "untuk beberapa waktu”. Hal ini didasarkan pada data ekonomi terbaru yang menunjukkan perbaikan di pasar tenaga kerja, sementara risiko inflasi masih ada.

Selain itu, Ketua Federal Reserve Chicago, Austin Goolsbee, juga menolak ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter. Ia menjelaskan bahwa suku bunga harus tetap stabil karena inflasi masih berada di atas target 2% yang ditetapkan oleh The Fed.

Ketua Federal Reserve Atlanta, Raphael Bostic, juga menyampaikan pendapat serupa. Ia menekankan pentingnya menjaga inflasi sebagai fokus utama dalam kebijakan moneter. Pernyataan ini semakin memperkuat prediksi bahwa suku bunga AS akan tetap stabil dalam jangka pendek.

Dari sisi domestik, Ibrahim melihat bahwa rupiah juga terpengaruh oleh pemberian rating oleh Moody’s. Moody’s Ratings (Moody's) memberikan peringkat Baa2 terhadap obligasi berdenominasi yuan offshore China dan euro yang diterbitkan pemerintah Indonesia. Obligasi ini diterbitkan dengan mekanisme shelf registration (obligasi berkelanjutan) senilai US$10 miliar.

Secara fundamental, Moody’s masih menilai bahwa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang cukup baik. Dukungan dari kekayaan sumber daya alam serta struktur demografi yang menguntungkan menjadi fondasi pertumbuhan jangka menengah.

Moody’s memproyeksikan pertumbuhan ekonomi riil Indonesia akan tetap berada di kisaran 5% dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, defisit fiskal Indonesia diperkirakan tetap berada di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Dalam kerangka makro konvensional, ini merupakan indikator stabilitas yang selama dua dekade terakhir menopang kepercayaan investor terhadap surat utang pemerintah Indonesia,” ujar Ibrahim.

Ibrahim memperkirakan bahwa rupiah akan cenderung fluktuatif, namun pada akhir perdagangan hari Kamis (26/2/2026), rupiah diperkirakan akan melemah di rentang Rp 16.800 hingga Rp 16.830 per dolar AS.

Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain perkembangan suku bunga AS, kondisi ekonomi global, serta dinamika pasar keuangan domestik. Prediksi ini menunjukkan bahwa rupiah akan terus menghadapi tekanan, terlebih jika situasi ekonomi global tidak stabil.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan