
aiotrade,
JAKARTA – Selama bulan Ramadan, sektor perunggasan di Indonesia sering kali menjadi salah satu yang paling diminati oleh masyarakat. Hal ini terlihat dari kenaikan permintaan terhadap produk unggas seperti ayam dan telur. Saham-saham perusahaan besar dalam sektor ini, seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), biasanya mengalami peningkatan momentum pasar.
Menurut analis dari Bahana Sekuritas, Abdusshomad Cakra Buana, secara historis, perekonomian Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor musiman atau event-driven. Dalam konteks ini, bulan Ramadan hingga Lebaran menjadi momen penting yang memengaruhi konsumsi rumah tangga.
"Secara umum, harga unggas cenderung meningkat menjelang Ramadan karena permintaan yang meningkat," ujarnya dalam laporan risetnya yang dirilis pada 24 Februari 2026. Ia menambahkan bahwa tren ini mencerminkan respons pasar terhadap kebutuhan konsumsi yang lebih tinggi selama periode tersebut.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat bahwa pertumbuhan PDB subsektor peternakan pada tahun 2025 mencapai 12,4% YoY, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDB sektor pertanian sebesar 5,33% dan PDB nasional yang tumbuh 5,11%. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perunggasan memiliki peran signifikan dalam perekonomian Indonesia.
Dari sisi makroekonomi, indeks penjualan ritel Bank Indonesia untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau menunjukkan bahwa konsumsi tetap stabil selama Ramadan. Cakra menjelaskan bahwa momentum kenaikan harga di sepanjang rantai nilai perunggasan akan terus berlanjut seiring dengan mendekatnya musim perayaan tersebut.
Tahun ini, Ramadan bertepatan dengan beberapa faktor pendorong lainnya, termasuk kebijakan belanja pemerintah. Bahana Sekuritas memperkirakan bahwa belanja fiskal pada semester pertama 2026 akan lebih kuat dan memberikan dukungan tambahan terhadap konsumsi masyarakat.
"Dengan karakteristik permintaan Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh momentum musiman, kami yakin kombinasi antara permintaan musiman yang kuat dan stimulus fiskal dapat menghasilkan Ramadan yang lebih baik dari biasanya bagi sektor perunggasan," kata Cakra.
Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi sentimen positif. Program ini berpotensi menyerap sebanyak 1,1 juta ton daging ayam, sehingga memberikan peluang besar bagi perusahaan-perusahaan sektor perunggasan.
Berdasarkan risetnya yang terbit pada 12 Januari 2026, Cakra merekomendasikan saham JPFA dan CPIN dengan target harga masing-masing Rp2.590 dan Rp4.490. Ia menjelaskan bahwa JPFA menjadi pilihan utama karena estimasi pertumbuhan laba inti 2026 yang lebih tinggi, ROIC yang lebih baik, serta fokus pada ekspansi hilir. Sementara itu, CPIN dinilai memiliki prospek ekspansi yang baik di segmen pabrik pakan.
Beberapa lembaga riset lain juga memberikan rekomendasi untuk saham CPIN. Misalnya, Bloomberg Terminal menyebutkan bahwa 19 dari 22 lembaga merekomendasikan buy CPIN dengan target harga Rp5.711. Angka ini mencerminkan potensial return sebesar 28,9% dari harga terakhir sebesar Rp4.430. Namun, pada penutupan Selasa (24/2), harga CPIN turun 1,58% menjadi Rp4.360.
Di sisi lain, 25 dari 28 lembaga riset merekomendasikan buy JPFA dengan target harga Rp3.029. Potensial return dari harga terakhir sebesar Rp2.420 adalah sebesar 25,2%. Harga saham JPFA pada penutupan Selasa (24/2) tidak berubah, tetap di harga Rp2.420.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk menyarankan pembelian atau penjualan saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar