Saham LQ45 Bersinar di Tahun 2026 dengan Suku Bunga Rendah

Saham LQ45 Bersinar di Tahun 2026 dengan Suku Bunga Rendah


aiotrade, JAKARTA – Tahun depan diharapkan menjadi momen penting bagi saham-saham LQ45 untuk menunjukkan kinerjanya. Selama tahun 2025, kinerja saham blue chips memang mengalami kenaikan, tetapi masih jauh tertinggal dibanding laju indeks komposit atau saham-saham lapis dua dan tiga.

Menurut M. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, konsensus ekonom telah memproyeksikan bahwa suku bunga acuan BI akan dipangkas pada akhir kuartal I dan kuartal II/2026. Hal ini bisa menjadi katalis positif yang mampu meningkatkan likuiditas pasar dalam negeri serta memberikan dampak signifikan terhadap sektor perbankan maupun emiten yang memiliki kebijakan dividen yang baik.

Pada saat ini, peningkatan IHSG sejak awal tahun mencapai 22,10% year to date (YtD). Namun, indeks LQ45 hanya naik 3,07%, sedangkan IDX30 hanya menguat 3,76%. Sementara itu, indeks SMC Composite melonjak hingga 55,42% YtD, sementara indeks SMC Liquid meningkat 17,84%.

Di sisi papan pencatatan, ketimpangan juga terlihat jelas. Main Board hanya naik 12,22% YtD, sedangkan Development Board dan Acceleration Board melonjak lebih dari 100%, masing-masing dengan pertumbuhan 112,24% dan 156,32% YtD.

Nafan menjelaskan bahwa penguatan saham LQ45 pada tahun depan akan semakin mendukung laju IHSG. Penguatan IHSG selama tahun ini didorong oleh saham-saham yang tergabung dalam indeks seperti IDX SMC Composite dan IDX SMC Liquid, serta saham-saham konglomerasi. Meski demikian, secara teknikal, penguatan IHSG bersifat secondary uptrend, yaitu tren yang tidak terlalu kuat dan memiliki horizon waktu pendek.

Terdapat tiga tingkatan uptrend, mulai dari minor uptrend, kemudian secondary minor, hingga primary uptrend yang memiliki horizon waktu lebih panjang. Untuk mencapai level 9.000 atau bahkan 10.000 pada tahun 2026, Nafan menilai bahwa saham-saham blue chips harus lebih aktif berperan dalam mendukung IHSG.

Selain itu, Nafan juga mengamati bahwa penggerak pasar saat ini masih didominasi oleh investor ritel dan semi institusi. Oleh karena itu, untuk mendorong IHSG lebih cepat pada 2026, diperlukan partisipasi lebih besar dari investor institusi besar.

Sementara itu, Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, menyampaikan bahwa tren pertumbuhan saham LQ45 dengan saham lapis dua dan tiga pada 2026 akan berbalik. Menurutnya, saham LQ45 memiliki peluang bagus untuk disasar investor asing ketika suku bunga dilonggarkan.

"Ketika BI dan The Fed memotong suku bunga, investor asing pasti akan masuk melalui saham LQ45 seperti bank-bank besar dan sektor telekomunikasi karena membutuhkan likuiditas," ujarnya.

Pada penutupan pasar di akhir tahun 2025, IHSG ditutup naik 0,03% ke level 8.646,94. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 22,13% secara YtD.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan