Saham Superbank (SUPA) Melonjak Pasca-IPO, Analis Soroti Nilai dan Potensi

Prospek Saham SUPA Pasca IPO

Setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) dinilai memiliki prospek menarik. Hal ini terutama didorong oleh valuasi yang relatif lebih rendah dibandingkan bank digital lainnya, serta antusiasme pasar pada fase awal pasca penawaran umum perdana saham (IPO).

Investment Specialist Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menyatakan bahwa saham SUPA memiliki prospek yang cukup menarik. Dari sisi fundamental, SUPA saat ini diperdagangkan pada valuasi price to book value (PBV) sekitar 2,5 kali. Level valuasi ini dinilai relatif murah jika dibandingkan dengan bank digital sejenis, seperti PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang berada di kisaran 3,3 kali dan PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) yang diperdagangkan di sekitar 4,3 kali.

Valuasi yang lebih rendah ini memberikan ruang apresiasi bagi saham SUPA, terutama jika kinerja keuangan mampu tumbuh sejalan dengan ekspektasi pasar.

“Secara fundamental saham SUPA diperdagangkan pada valuasi PBV sebesar 2,5 kali yang tergolong murah dibandingkan dengan bank digital sejenis seperti ARTO (3,3 kali) dan BBHI (4,3 kali),” ujar Azharys.

Tantangan Likuiditas

Dari sisi likuiditas, SUPA masih menghadapi tantangan dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) yang sudah mencapai 99 persen. Kondisi ini menunjukkan penyaluran kredit yang relatif agresif dibandingkan dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun.

Momentum IPO diharapkan dapat menjadi katalis positif untuk mendorong ekspansi penyaluran kredit ke depan, namun pada saat yang sama perseroan perlu menjaga pertumbuhan dana pihak ketiga agar tekanan terhadap LDR dapat lebih longgar dan struktur pendanaan tetap sehat.

“Likuiditas SUPA saat ini relatif ketat dengan rasio LDR mencapai 99 persen, meskipun momentum IPO diharapkan mendorong pertumbuhan penyaluran kredit. Untuk melonggarkan tekanan LDR, SUPA perlu mempertahankan pertumbuhan simpanan (DPK),” paparnya.

Potensi Pertumbuhan

Ke depan, potensi pertumbuhan SUPA dinilai cukup menjanjikan, terutama ditopang oleh Net Interest Margin (NIM) yang tinggi di kisaran 10 persen. Tingginya NIM ini memberikan ruang yang besar bagi peningkatan laba bersih, sehingga dapat menjadi motor utama pertumbuhan bottom line perseroan.

Selain itu, SUPA memiliki keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki banyak bank digital lain, yakni ekosistem yang kuat melalui kemitraan strategis dengan Grab. Kolaborasi ini dinilai mampu mempercepat akuisisi nasabah, meningkatkan volume transaksi, serta memperkuat posisi SUPA dalam persaingan industri perbankan digital.

Pergerakan Harga Saat Ini

Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menilai munculnya auto reject atas (ARA) pada saham SUPA pada perdagangan Rabu kemarin mencerminkan ekspektasi pasar yang cukup positif dalam jangka pendek. Lonjakan harga tersebut menunjukkan permintaan yang sangat tinggi terhadap saham SUPA, meski pergerakan ini belum sepenuhnya merefleksikan kualitas fundamental perusahaan secara menyeluruh.

Untuk diketahui, SUPA mencatatkan saham perdananya di BEI pada Rabu kemarin. Pada hari pertama perdagangan, saham SUPA langsung mencetak auto reject atas. Saham SUPA ditutup menguat 24,41 persen atau naik 155 poin ke level Rp 790 per saham.

Adapun, pada perdagangan Kamis, pukul 11.24 WIB, saham SUPA melonjak ke level Rp 985 per saham, menguat 195 poin atau setara 24,68 persen dibandingkan harga penutupan sebelumnya.

Reydi menyebut antusiasme pasar lebih banyak didorong oleh sentimen awal pasca pencatatan perdana, sehingga pergerakan harga masih sangat dipengaruhi faktor psikologis dan dinamika permintaan jangka pendek.

“ARA SUPA hari ini menunjukkan ekspektasi pasar cukup positif untuk jangka pendek. Lonjakan ini mencerminkan permintaan pasar sangat tinggi, tetapi belum tentu menggambarkan kualitas dari fundamental saham tersebut,” ucap Reydi.

Analisis Teknis

Dari sisi teknikal, analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mencatat pergerakan saham SUPA saat ini belum dapat dianalisis secara memadai. Hal ini disebabkan saham tersebut baru saja melantai di BEI sehingga data historis pergerakan harga masih sangat terbatas.

Oleh karena itu dibutuhkan waktu ke depan agar saham SUPA memiliki histori perdagangan yang lebih panjang dan pergerakan harga yang lebih stabil, sehingga analisis menggunakan indikator teknikal dapat dilakukan secara lebih akurat dan objektif.

“Dari sisi teknikal pergerakan SUPA belum dapat dianalisa, selain baru saja IPO pergerakannya pun langsung ARA. Diperkirakan perlu beberapa waktu mendatang agar emiten IPO dapat di analisa menggunakan indikator,” ungkap Herditya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan