
Pemulihan Ekonomi dan Ketahanan Pangan di Tengah Bencana
Lima penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki berkesempatan untuk berbicara tentang ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi dalam sebuah forum Lokakarya Program Correct. Acara ini diadakan di Hotel Sunrise, Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi NTT, pada hari Selasa (16/12/2025) siang. Forum tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Catholic Relief Services (CRS) dan Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS), dua organisasi kemanusiaan yang fokus pada kehidupan penyintas korban bencana di lima desa dampingan.
Para pembicara yang hadir dalam forum ini adalah Ketua Kelompok Siaga Bencana (KSB) dari masing-masing desa terdampak. Mereka mengatakan bahwa CRS dan YPPS telah memberikan bantuan dalam mempertahankan mata pencarian melalui kegiatan pertanian yang cerdas iklim serta menyiapkan wadah simpan pinjam masyarakat (SLIC).
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Adrianus Lamabelawa, hadir dalam forum tersebut mewakili Bupati Anton Doni Dihen. Ia mendengarkan berbagai pengalaman para penyintas yang perlahan bangkit dari keterpurukan. Beberapa pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga turut hadir dalam acara ini.
Pertanian Cerdas Iklim Berdampak Positif
Ketua KSB Desa Nobo, Robertus Kage, menjelaskan bahwa terdapat dua lahan (Demplot) yang ditanami tanaman hortikultura. Hasil panen tersebut laku terjual habis ke Hunian Sementara (Huntara), tempat para penyintas asal lima desa tinggal.
"Penyintas bilang bosan kalau tidak buat apa-apa. Saat makan, kalau sayuran hanya satu jenis orang bosan, tetapi sekarang dengan hasil sayuran di demplot, mereka bisa dapat sayur sesuai selera, tidak tanya terung tetapi banyak sayuran lain. Kami juga jual di pengungsian Huntara," ujarnya.
Robertus menyebut bahwa kehadiran pendampingan CRS dan YPPS terhadap pertanian cerdas iklim memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
"Tidak sadar, sekali terjual bisa menghasilkan Rp 150 sampai Rp 200 ribu. Perputaran uang di Huntara juga lancar, ekonomi semakin hidup," tambahnya.
SLIC sebagai Solusi Keuangan
Ketua KSB Desa Hokeng Jaya, Linda Namang, mengungkapkan bahwa ketahanan keluarga penyintas terbantu dengan adanya SLIC. Lewat simpan pinjam internal masyarakat itu, Linda berhasil membuka usaha kue cucur untuk menopang hidupnya bersama keluarga, khususnya untuk biaya pendidikan.
"Sangat terbantu, termasuk ketika kami pindah ke Huntara. Kami harus benahi yang kurang di Huntara, seperti beli semen dan biaya angkut pasir dan sewa tenaga. Kami tidak bisa pinjam ke koperasi dan bank karena sekarang masih dalam keadaan bencana," ceritanya.
Apresiasi dari Pemerintah Daerah
Ikhtiar CRS dan YPPS dalam membantu Pemerintah dalam mewujudkan ketahanan masyarakat terdampak bencana sejak awal tahun 2024 mendapat apresiasi dari Pemkab Flores Timur.
"Kehadiran dan partisipasi dan dukungan yang sungguh nyata di lima desa binaan, Desa Boru, Hokeng Jaya, Dulipali, Nobo dan Konga," ujar Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Adrianus Lamabelawa.
Program Manejer PAR IV Correct Program CRS Indonesia, Helmi Hanit, menjelaskan bahwa terdapat sebanyak 13 kelompok simpan pinjam penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki dengan dana sekitar Rp 200 juta.
"Mereka menggunakan ini untuk pendidikan, menunjang modal usaha, dan income rumah tangga," ujarnya.
Ia berharap ada Pemerintah Daerah Flores Timur memberikan masukan soal sinkronisasi program kerja dan prioritas.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar