Sehat Jadi Sakit, Sakit Makin Parah


Rumah sakit sering kali menjadi tempat yang dihindari oleh kebanyakan orang, karena memang tidak menyenangkan. Di dalamnya, setiap orang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bagi yang sedang sakit, menunggu giliran untuk bertemu dokter terasa seperti tak pernah berakhir. Sementara bagi keluarga yang menemani pasien, rasa bosan dan lelah sering menghampiri.

Beberapa minggu lalu, saya harus mengorbankan jam mengajar di siang hari, sore, dan malam demi menemani kakak laki-laki saya, Joni, ke dokter spesialis urologi di salah satu rumah sakit di Samarinda. Joni membutuhkan pemeriksaan rutin prostatnya karena faktor usia. Pengalaman ini menjadi kisah penantian yang panjang dan penuh drama.

Pengalaman Penantian di Rumah Sakit

Perjalanan dari rumah ke rumah sakit sudah cukup melelahkan. Setelah tiba, kami mendapatkan nomor antrean tujuh melalui aplikasi Mobile JKN. Estimasi waktu layanan adalah sekitar pukul 16.30 WITA. Namun, registrasi ulang ternyata memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Kami harus menunggu selama 60 menit sebelum akhirnya dipanggil untuk registrasi. Ini membuat saya bertanya-tanya apakah masalahnya ada pada akses internet atau jumlah pasien yang sangat banyak.

Setelah registrasi selesai, kami menuju ruang praktik dokter. Pukul 16.30 WITA, namun nomor antrean tujuh tetap tidak berubah. Harapan bahwa Joni akan segera dilayani tidak terwujud. Satu jam berlalu, dan hingga pukul 17.30 WITA, belum ada tanda-tanda pemanggilan. Saya pun memutuskan untuk keluar rumah sakit dan membeli air mineral untuk Joni. Setelah kembali, Joni langsung minum air itu dengan lahap.

Joni akhirnya dipanggil pada pukul 18.30 WITA, dua jam setelah registrasi. Selama masa penantian tersebut, saya melihat seorang ibu lanjut usia yang duduk di kursi roda. Ada juga seorang perempuan muda dan laki-laki sekitar usia tiga puluhan tahun di sebelahnya. Mereka tampak khawatir karena ibu tersebut sudah menunggu sejak jam tiga pagi. Keluhan mereka sangat beralasan, karena menunggu selama tiga jam lebih sangat tidak manusiawi.

Harapan Orang Kecil

Sebagai wong cilik, tulisan ini mungkin tidak akan diperhatikan oleh pihak pemerintah. Namun, saya berharap artikel ini bisa menjadi celah untuk menjelaskan derita rakyat dalam mengakses layanan kesehatan. Berikut tiga harapan saya:

  1. Pangkas birokrasi yang panjang
    Birokrasi sering kali membuat proses pendaftaran menjadi rumit dan memakan waktu. Dengan pendaftaran yang ringkas, cepat, dan di satu tempat, masyarakat akan merasa lebih nyaman.

  2. Buat ruang tunggu yang nyaman dengan pendingin/penyejuk ruangan
    Ruang tunggu yang nyaman sangat penting, terutama bagi pasien yang harus menunggu lama. Di beberapa rumah sakit di daerah lain, seperti kota X di Kalimantan Timur, fasilitas AC tersedia. Ini menjadi contoh yang baik untuk rumah sakit di Samarinda.

  3. Bangun rumah sakit-rumah sakit lain secara merata di setiap kecamatan
    Keterbatasan jumlah rumah sakit membuat masyarakat harus jauh-jauh ke rumah sakit yang jauh dari rumah. Dengan pembangunan rumah sakit di setiap kecamatan, masyarakat tidak lagi kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan.

Memosisikan Dir sebagai Rakyat

Pendidikan dan kesehatan adalah dua kebutuhan dasar yang masih belum sepenuhnya terpenuhi di Indonesia. Sudah saatnya para pemimpin dan wakil rakyat memposisikan diri sebagai rakyat jelata. Jangan sampai mereka lupa dengan keadaan sebelum menjabat, dan jangan sampai lupa dengan sumpah jabatan mereka.

Karena rakyatlah yang memilih, ada harapan besar di balik pilihan tersebut. Jangan sampai orang sehat jadi sakit, dan orang sakit jadi tambah sakit karena jarak rumah ke rumah sakit yang jauh, pendaftaran yang berbelit, dan penantian yang lama. Jangan sampai jargon "Kalau bisa dipersulit, ngapain harus dipermudah?" tetap langgeng. Jika hal ini terus berlangsung, maka ironi warga +62 akan semakin terasa.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan