Seorang bos Himbara akan kirim surat ke BI, apa maksudnya?


aiotrade,
JAKARTA –
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) mengungkapkan kekhawatirannya terkait lambatnya transmisi penurunan suku bunga kredit perbankan yang disampaikan oleh Bank Indonesia (BI). Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan bahwa pihaknya berencana untuk mengirimkan surat kepada BI guna meminta pemahaman dan relaksasi dalam menjalankan program pemerintah dengan skema bunga rendah.

“Kami ingin mengajukan permohonan pemahaman dan relaksasi kepada BI. Kami telah menjalankan program pemerintah sejak awal dengan bunga rendah. Jika memang diperlukan, pemerintah harus menurunkan bunga subsidi tersebut,” ujar Nixon saat diwawancarai di Menara 2 BTN, Jakarta Selatan, dikutip pada Sabtu (20/12/2025).

Nixon menjelaskan bahwa sekitar 60% dari portofolio kredit BTN adalah Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dengan suku bunga tetap sebesar 5%, sesuai dengan aturan pemerintah. Selain itu, BTN juga telah menurunkan suku bunga KPR non subsidi melalui program bunga 2,65%. Program ini sudah dilakukan jauh sebelum isu lambatnya transmisi suku bunga muncul.

Namun, Nixon menyebut bahwa penurunan suku bunga tersebut belum memberikan dampak signifikan karena permintaan atau tingkat booking KPR non subsidi sedikit menurun. Ia mengatakan bahwa rendahnya permintaan membuat efek penurunan bunga tidak terlihat secara signifikan, meskipun secara kebijakan BTN telah melakukan penyesuaian. Hal ini juga terlihat dari imbal hasil atau yield kredit perseroan yang saat ini sudah berada di level rendah.

Atas dasar ini, BTN berencana menyurati BI untuk meminta pemahaman dan relaksasi. Nixon menilai bahwa penurunan lebih lanjut baru akan memungkinkan jika pemerintah menyesuaikan suku bunga KPR subsidi. “5% itu sudah sangat rendah menurut saya. Dan tidak ada produk KPR 20 tahun yang bunganya serendah itu,” ujarnya.

Sebelumnya, BI melaporkan bahwa penurunan suku bunga kredit perbankan masih berjalan lambat hingga November 2025. Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa penurunan suku bunga kredit hanya sebesar 24 basis poin (bps) dari 9,20% pada awal 2025 menjadi 8,96% pada November 2025.

“Penurunan suku bunga kredit perbankan turun melambat sehingga perlu didorong,” kata Perry dalam Konferensi Pers Hasil RDG Bulanan Desember 2025, Rabu (17/12/2025).

Di sisi lain, Perry menyebut bahwa transmisi penurunan BI Rate terhadap suku bunga perbankan terus berlanjut. Otoritas moneter mencatat suku bunga deposito satu bulan turun 67 bps dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,15% pada November 2025.

Adapun pertumbuhan kredit pada November 2025 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. BI melaporkan, pertumbuhan kredit pada November 2025 sebesar 7,74% secara tahunan (year on year/YoY), dengan fasilitas yang belum ditarik atau undisbursed loan mencapai Rp2.509,4 triliun.

Dari sisi pertumbuhan kredit, angka pada bulan kesebelas itu meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 7,36% YoY. Perry Warjiyo menyampaikan penyaluran kredit perbankan masih perlu ditingkatkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Permintaan kredit yang belum kuat antara lain dipengaruhi oleh sikap pelaku usaha yang masih wait and see serta penurunan suku bunga kredit yang masih lambat,” pungkasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan