Studi: Ruang Hijau Kurangi Gangguan Mental

Ruang Hijau dan Kesehatan Mental

Siapa sangka, ruang hijau yang luas ternyata bisa memperkecil kemungkinan seseorang terkena gangguan mental? Sebuah tim peneliti internasional berhasil membuktikannya setelah merangkum data dari 11,4 juta pasien rawat inap di rumah sakit jiwa. Responden pasien tersebut tersebar di 6.842 lokasi di tujuh negara selama dua dekade terakhir.

Penelitian ini menggunakan ukuran satelit yang disebut Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) atau Indeks Vegetasi Perbedaan Ternormalisasi. Metode ini sering digunakan untuk mengetahui perkembangan fotosintesis tanaman di area tertentu. Hasil studi menunjukkan bahwa menanam lebih banyak pohon dapat mengurangi kasus rawat inap akibat kesehatan mental.

Para ahli menghubungkan nilai NDVI dengan penerimaan rumah sakit untuk semua gangguan mental yang digabungkan dan enam kelompok spesifik, yaitu gangguan psikotik, gangguan penggunaan zat, gangguan suasana hati, gangguan perilaku, demensia, dan kecemasan. Mereka memperhitungkan faktor pengganggu seperti kepadatan penduduk, cuaca, polusi udara, indikator sosial ekonomi, dan musim.

Tim peneliti mengelompokkan data berdasarkan usia, jenis kelamin, urbanisasi, dan musim. Setelah dikalkulasikan secara merinci, lingkungan yang lebih hijau ternyata bisa dikaitkan dengan pengurangan kasus rawat inap sebanyak 7 persen, khususnya yang menyangkut gejala gangguan mental. Persentase ini bukan sekadar angka kecil, mengingat 1,1 miliar orang di seluruh dunia dilaporkan hidup dalam gangguan mental atau sekitar 14 persen dari beban penyakit global.

Khusus di daerah perkotaan, para peneliti memperkirakan ruang hijau berdampak mencegah sekitar 7.712 pasien psikiatris masuk rumah sakit setiap tahunnya. Penelitian ini juga menemukan pola musiman yang jelas dan masuk akal. Salah satu yang dibahas adalah cara memanfaatkan ruang hijau seiring perubahan panas, hujan, siang dan malam, serta kualitas udara.

Masih Observasi, Tanpa Bukti Pasti

Tim peneliti tetap memberikan disclaimer bahwa kajian ini bersifat observasional. Studi tersebut belum bisa membuktikan pengaruh langsung lingkungan yang lebih hijau terhadap penurunan angka rawat inap psikiatris.

Di sisi lain, menggabungkan data rumah sakit dari berbagai negara pada dasarnya merupakan tugas yang rumit dan berantakan. Meski begitu, para penulis studi memastikan konsistensi pola telah disesuaikan dengan faktor pengganggu besar, bentuk dosis-respons, dan skala kumpulan data membuat temuan tersebut sulit diabaikan.

Beda Negara, Beda Kasus

Para peneliti menyatakan luas ruang hijau tidak seragam antar satu negara dengan yang lainnya. Area penelitian itu mencakup Australia, Brasil, Kanada, Cile, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Thailand.

Brasil, Cile, dan Thailand menunjukkan manfaat yang konsisten di hampir semua kategori gangguan kesehatan. Sebaliknya, Australia dan Kanada justru menjadi pengecualian, karena angka rawat inap sedikit meningkat seiring bertambahnya ruang hijau di sekitar pemukiman. Tapi hal ini tidak lantas menunjukkan bahwa pepohonan berdampak buruk bagi warga Kanada.

Konteks studi itu mencerminkan: jenis ruang hijau seperti apa yang dihitung? Apakah itu taman kota, jalur hijau di tepi sungai, dan deretan pohon di jalan—atau sekadar hamparan rumput di pinggir jalan raya dan zona penyangga industri?

Ketika para peneliti berfokus memperhatikan kota lain, peningkatan 10 persen untuk ruang hijau berkorelasi dengan penurunan jumlah penerimaan gangguan mental. Perbandingannya mulai dari sekitar satu per 100 ribu orang di Korea Selatan hingga sekitar 1.000 per 100 ribu orang di Selandia Baru.

Kesimpulan Studi

Isi kesimpulan studi itu: masyarakat tidak perlu pindah ke hutan untuk terhindar dari gangguan kesehatan mental. Publik bisa saja merawat lebih banyak pohon di lingkungan masing-masing pada saat ini. Jumlah pohon bisa diperbanyak untuk mendapat ketentraman jiwa.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan