
Prospek dan Tantangan PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) di Tahun 2026
PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) masih menghadapi tantangan dalam menjelang tahun 2026. Meskipun demikian, perusahaan tetap menargetkan pertumbuhan produksi minyak sawit mentah (CPO) dan tandan buah segar (TBS) sebesar 3% hingga 5% pada tahun tersebut. Direktur Utama SGRO, Budi Setiawan Halim, menyatakan bahwa target produksi untuk tahun depan masih dalam penyusunan. Namun, secara umum, pertumbuhan diperkirakan berada di kisaran 3% hingga 5%.
Sebagai contoh, total produksi TBS meningkat 13% secara tahunan (YoY) menjadi 1,2 juta ton pada kuartal III 2025. Hal ini terjadi karena pengaruh El-Nino yang mulai mereda setelah semester II tahun 2023, sehingga memengaruhi produksi pada tahun 2024.
Meski harga CPO mengalami penurunan di awal kuartal IV 2025, SGRO mengakui bahwa harga saat ini lebih tinggi dibanding rata-rata harga pada tahun 2024. Menurut data Trading Economics, harga CPO saat ini berada di MYR 3.981 per ton, turun 10,42% sejak awal tahun. Namun, Budi menyatakan bahwa secara rata-rata, harga CPO pada tahun ini lebih tinggi dibanding tahun lalu.
Permintaan CPO di tahun 2026 diperkirakan tetap baik, terutama dari pemerintah yang mendorong program B40. Di sisi lain, produksi diperkirakan akan terkontraksi, sehingga tidak akan ada pertumbuhan signifikan. Akibatnya, harga CPO diprediksi tetap stabil di tahun depan.
Dengan situasi ini, penjualan SGRO juga ditargetkan meningkat sesuai dengan kondisi harga dan permintaan. Perubahan penjualan nanti akan mengikuti tingkat persediaan TBS dan CPO perusahaan di tahun depan, apakah lebih rendah atau lebih tinggi. Hitungan kasarnya, target pertumbuhan penjualan di tahun 2026 sekitar 3%, yang sejalan dengan pertumbuhan produksi, ditambah marjin persediaan SGRO.
“Tapi tidak akan jauh, karena inventory kami tidak terlalu banyak, biasanya sekitar 10-20 ribu ton saja per tahun,” ujar Budi.
Prospek dan Rekomendasi Saham SGRO
Menurut Investment Analyst Edvisor Provina Visindo Indy Naila, kinerja SGRO ke depan masih bergantung pada harga CPO. Sayangnya, harga CPO bisa melandai di tahun 2026, sehingga ada kemungkinan penurunan dari volume produksi SGRO. Namun, program B40 diharapkan bisa menjadi penahan penurunan harga CPO secara global.
Selain itu, integrasi SGRO dengan rantai suplai POSCO International bisa berpotensi memberikan anggaran belanja modal baru. Meskipun demikian, SGRO secara valuasi saham masih menarik.
Melalui Twinwood Family Holdings Limited, Grup Sampoerna menjual seluruh kepemilikan saham mereka pada SGRO sebesar 1,19 miliar saham atau 65,72%. Twinwood Family melepas SGRO kepada AGPA Pte. Ltd., anak perusahaan POSCO International Corporation (POSCO International), dengan nilai total pengambilalihan sebesar Rp 9,4 triliun atau Rp 7.903 per saham.
SGRO mengaku akan tetap fokus pada bisnis hulu. Nantinya, akan ada sinergi dari SGRO di sisi hulu, dengan pemegang saham baru mereka, AGPA-POSCO, yang akan masuk di sisi hilir dan ke depannya akan masuk ke industri renewable energy.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi berpandangan bahwa masuknya POSCO International menjadi katalis positif secara strategis untuk SGRO, terutama akses ke refinery dan jaringan global. Alhasil, di tahun 2026 kinerja SGRO berpeluang membaik dari sisi operasional dan logistik. Pendorongnya berasal dari efisiensi rantai suplai, tapi pemberatnya ada di siklus produksi kebun yang sudah mulai tua di beberapa area.
“Sinergi dengan POSCO International bakal menjadi kunci pertumbuhan jangka panjang,” kata Wafi. Ia merekomendasikan beli untuk saham SGRO dengan target harga Rp 8.800 per saham.
Grafik Saham SGRO
by TradingView
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar