Tekanan global meningkat, OJK pastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga

aiotrade – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global yang masih bergejolak. Penilaian ini sebagaimana telah diputuskan dalam Rapat Dewan Komisioner OJK yang digelar pada 24 Desember 2025.

“Rapat Dewan Komisioner pada bulan Desember menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga,” ujar Mahendra dalam konferensi pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Desember 2025, Jumat (9/1).

Ia menjelaskan, berdasarkan rilis data perekonomian global, kondisi ekonomi dunia secara umum menunjukkan perbaikan, meski kinerja ekonomi Tiongkok masih berada di bawah ekspektasi. Di sisi lain, aktivitas manufaktur global tercatat tetap berada di zona ekspansi, walaupun dengan laju pertumbuhan yang lebih termoderasi.

Untuk tahun 2026, lanjut Mahendra, lembaga-lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global masih akan melandai dan berada di bawah rata-rata pertumbuhan pra-pandemi. Kondisi ini dipengaruhi oleh meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama.

Di Amerika Serikat, perekonomian masih menunjukkan kinerja yang relatif solid. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2025 tumbuh 4,3 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan melampaui konsensus pasar.

"Namun, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda moderasi. Inflasi November 2025 juga tercatat menurun ke level 2,7 persen, sementara inflasi inti turun menjadi 2,6 persen," beber Mahendra.

Sebaliknya, kata dia, di Tiongkok sendiri perlambatan ekonomi masih berlanjut. Konsumsi rumah tangga dinilai masih tertahan, sementara dari sisi penawaran, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur kembali masuk ke zona kontraksi. Tekanan di sektor properti pun masih terus berlangsung.

Perkembangan tersebut, lanjut Mahendra, mendorong sejumlah bank sentral dunia kembali mengambil kebijakan akomodatif. Federal Reserve memangkas Fed Fund Rate (FFR), disusul Bank of England yang juga menurunkan suku bunga acuannya pada Desember 2025.

Kendati begitu, arah kebijakan berbeda ditempuh Bank of Japan yang justru menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir, seiring tekanan inflasi yang relatif persisten di Jepang.

“Perbedaan arah kebijakan dari bank-bank sentral tersebut turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global,” jelas Mahendra.

Lebih lanjut, Mahendra menyampaikan bahwa pasar saham global secara umum bergerak menguat merespons pemangkasan FFR, meskipun dibayangi kekhawatiran akan potensi gelembung di saham teknologi. Di sisi lain, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong pelemahan pasar obligasi pemerintah global, seiring berakhirnya praktik carry trade yang selama ini menopang pasar tersebut.

Mahendra juga menyoroti perhatian pelaku pasar pada awal 2026 terhadap perkembangan geopolitik di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik serta pasar keuangan global. Di tengah dinamika global tersebut, perekonomian domestik Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan.

"Pada Desember 2025, mencatat inflasi inti yang meningkat secara terkendali, sektor manufaktur masih berada di fase ekspansif, dan kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang mencatatkan surplus," tukasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan