
Perang di Perbatasan Thailand dan Kamboja
Pertempuran antara Thailand dan Kamboja kembali memanas setelah lebih dari seminggu konflik yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Pihak Thailand menuntut Kamboja untuk segera mengumumkan gencatan senjata sebagai langkah awal untuk mengakhiri perang yang terjadi antara kedua negara.
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Maratee Nalita Andamo, Kamboja harus menjadi pihak pertama yang menyatakan gencatan senjata karena mereka dianggap sebagai pihak yang menyerang wilayah Thailand. Ia juga menekankan bahwa Kamboja harus bekerja sama dalam upaya pembersihan ranjau di perbatasan.
Konflik ini kembali meletus pada Desember 2025, dengan sedikitnya 32 orang tewas, termasuk tentara dan warga sipil. Sebanyak 800.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat kekerasan yang terjadi.
Kedua negara saling menyalahkan atas terjadinya bentrokan. Thailand dan Kamboja masing-masing membela diri dan menuduh pihak lain melakukan serangan terhadap warga sipil. Hingga saat ini, belum ada respons resmi dari pihak Kamboja.
Presiden AS Donald Trump beberapa waktu lalu mengklaim bahwa kedua negara telah sepakat untuk gencatan senjata yang dimulai pada Sabtu malam. Namun, klaim tersebut dibantah oleh Bangkok.
Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menyatakan bahwa negaranya mendukung inisiatif gencatan senjata yang diinisiasi oleh Malaysia, ketua blok regional ASEAN, dengan keterlibatan Washington. Meskipun begitu, pertempuran masih berlangsung setiap hari sejak 7 Desember 2025.
Bentrokan kembali terjadi pada Senin, 15 Desember 2025. Kamboja menuduh Thailand melakukan serangan jauh ke dalam wilayahnya. Thailand dituduh membom provinsi yang merupakan rumah bagi candi Angkor, salah satu daya tarik wisata utama di Kamboja.
Kementerian Pertahanan Kamboja menyatakan bahwa sebuah jet tempur Thailand melakukan pengeboman di dekat kamp pengungsi sipil di daerah distrik Srei Snam, provinsi Siem Reap.
Menteri Informasi Kamboja, Neth Pheaktra, mengatakan bahwa serangan ini adalah penetrasi terjauh yang pernah dilakukan militer Thailand ke wilayah Kamboja selama bentrokan yang kembali terjadi. Thailand masuk ke wilayah Kamboja lebih dari 70 km dari perbatasan dan jauh dari wilayah sengketa.
Tantangan dan Konsekuensi
Konflik ini tidak hanya berdampak pada korban jiwa, tetapi juga merusak infrastruktur dan mengancam keamanan wilayah yang menjadi daya tarik wisata. Candi Angkor, yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi, menjadi target serangan yang memicu kekhawatiran internasional.
Selain itu, adanya ranjau di perbatasan menciptakan ancaman bagi penduduk setempat dan membuat proses pembersihan sangat kompleks. Kerja sama antar kedua negara menjadi penting untuk mengatasi masalah ini secara efektif.
Dengan situasi yang terus memburuk, komunitas internasional mulai memberikan tekanan kepada kedua belah pihak untuk segera menyelesaikan konflik melalui dialog damai. Namun, hingga saat ini, tidak ada indikasi signifikan bahwa perdamaian akan segera tercapai.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar