Utang Global Tembus Rp 5.818 Kuadriliun, Akibat AS dan Tiongkok

Utang Global Mencatat Rekor Tertinggi

Utang global mencapai rekor tertinggi pada tahun lalu, yaitu sebesar 348 triliun dolar AS atau setara dengan 5,818 triliun rupiah (berdasarkan asumsi kurs Jisdor akhir 2015 sebesar 16.720 per dolar AS). Angka ini menandai kenaikan utang tercepat sejak pandemi, yang dipengaruhi oleh baik negara maju maupun negara berkembang.

Menurut data Institute of International Finance, total utang global termasuk pinjaman publik dan korporasi meningkat sebesar 29 triliun dolar AS pada tahun 2025. Dua pertiga dari peningkatan ini berasal dari negara-negara maju, terutama karena lonjakan defisit yang dipimpin oleh Cina, Amerika Serikat, dan Eropa.

Meskipun jumlah utang secara nominal mencetak rekor, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) justru menurun menjadi 308%. Di pasar negara berkembang, rasio PDB meningkat menjadi lebih dari 235%, dengan nilai utang bersih mencapai 117 triliun dolar AS.

Dalam laporan mereka, Direktur pasar dan kebijakan global IIF Emre Tifti, ekonom Khadija Mahmood, dan analis riset senior Raymond Aycock menyatakan bahwa kondisi keuangan yang lebih mudah seharusnya mendukung upaya untuk memobilisasi modal yang sangat dibutuhkan untuk prioritas nasional, termasuk pembiayaan pertahanan dan investasi terkait kecerdasan buatan.

Namun, menurut mereka, ekspansi utang tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang meningkatnya leverage dan overheating di beberapa pasar. Negara-negara berkembang menghadapi kebutuhan pembiayaan ulang lebih dari 9 triliun dolar AS pada tahun ini, yang meningkatkan risiko seiring fluktuasi kondisi likuiditas global.

Untuk saat ini, kondisi pendanaan yang mendukung dan permintaan investor internasional untuk perdagangan carry trade yang menarik seharusnya membantu menahan risiko, kata laporan tersebut.

Pasar Obligasi Pemerintah AS Tetap Menarik

Sementara itu, pasar obligasi pemerintah AS tetap mempertahankan daya tariknya sebagai aset safe-haven yang telah lama ada meskipun kekhawatiran fiskal meningkat karena permintaan asing untuk aset AS di berbagai bidang, baik obligasi maupun saham, tetap kuat.

“Hal ini sangat kontras dengan narasi baru-baru ini bahwa modal asing meninggalkan AS di tengah upaya diversifikasi dan de-dolarisasi,” demikian penjelasan penulis.

Perkembangan Utang di Berbagai Wilayah

Di wilayah Asia, khususnya Cina, utang publik dan swasta meningkat pesat akibat kebijakan stimulus pemerintah dan peningkatan investasi infrastruktur. Di Eropa, utang juga melonjak karena pembelian obligasi oleh bank sentral dan program bantuan darurat.

Di Amerika Serikat, utang pemerintah meningkat karena anggaran belanja yang tinggi dan kenaikan suku bunga. Meskipun begitu, pasar obligasi AS tetap menjadi tempat aman bagi investor global.

Di negara-negara berkembang lainnya, seperti India dan Brasil, utang juga meningkat, terutama dalam bentuk pinjaman asing dan utang pemerintah. Namun, para ekonom memperingatkan bahwa risiko default bisa muncul jika tidak ada pengelolaan yang tepat.

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana mengelola utang agar tidak menjadi beban berlebihan di masa depan. Di sisi lain, peluang juga ada dalam bentuk investasi yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Para ahli menyarankan agar negara-negara melakukan reformasi struktural, meningkatkan efisiensi pengeluaran, dan mengurangi ketergantungan pada utang. Selain itu, penting untuk memperkuat sistem keuangan dan regulasi pasar agar tidak terjadi gejolak serius.

Dengan situasi yang semakin kompleks, diperlukan kerja sama antar negara dan institusi internasional untuk memastikan stabilitas ekonomi global.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan