Penemuan Belatung dalam Tahu Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) Viral di Media Sosial
Sebuah video yang menunjukkan penemuan belatung dalam tahu menu Makan Bergizi Gratis (MBG) beredar luas di media sosial. Video ini menarik perhatian banyak pengguna karena isinya yang mengejutkan dan memicu diskusi tentang kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.
Dalam narasi video tersebut disebutkan bahwa lauk pauk MBG yang mengandung belatung terjadi di empat sekolah dasar atau SD di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Video ini pertama kali diunggah oleh akun TikTok @yun e’r dan telah mencapai lebih dari 1,2 juta kali tontonan, disukai sebanyak 13,1 ribu kali, serta dibagikan lebih dari 8.700 kali.
Selain itu, video serupa juga diunggah oleh akun YouTube @dinodoni1 pada 15 Oktober 2025. Dalam video tersebut, seorang perempuan menunjukkan temuan tahu yang dipenuhi belatung. Narasi video menyebutkan bahwa belatung tersebut ditemukan pada menu MBG di empat SD Kalibawang.

Dinkes Wonosobo Mengklarifikasi Peristiwa
Menanggapi kejadian ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonosobo memberikan klarifikasi. Menurut informasi yang diperoleh, temuan belatung pada tahu MBG tidak sepenuhnya benar. Kepala Dinkes Wonosobo, Jaelan Sulat, menjelaskan bahwa kejadian tersebut hanya terjadi di satu sekolah, bukan empat seperti yang disebutkan dalam video viral.
“Kejadian di Kalibawang kemarin memang patut kita sayangkan. Itu terjadi di satu sekolah, SD 2 Kalikarung,” ujar Jaelan Sulat, dikutip dari Kompas.com, Minggu (19/10/2025).
Pihak Dinkes juga sudah menerima laporan dari masyarakat. Untuk merespons kejadian tersebut, mereka melakukan uji organoleptik terhadap makanan dari dua sekolah di Kalibawang. Uji organoleptik adalah pengujian mutu suatu produk berdasarkan pancaindra, yaitu penglihatan, penciuman, perasa, peraba, dan pendengaran. Tujuan pengujian ini adalah untuk menilai ciri-ciri fisik seperti warna, aroma, rasa, dan tekstur biasanya dilakukan pada makanan dan minuman untuk memastikan kualitas dan penerimaan oleh konsumen.
“Untuk SD 1 Kalikarung, porsi yang diterima tim keamanan pangan tidak ditemukan apapun. Sedangkan di SD 2 Kalikarung, ditemukan larva pada satu jenis makanan,” ujar Jaelan Sulat.
Selain itu, Jaelan menjelaskan bahwa makanan yang ditemukan mengandung belatung itu belum sempat dikonsumsi oleh siswa.
“Makanan itu belum sempat dikonsumsi,” tegasnya.
Langkah-Langkah yang Dilakukan Dinkes Wonosobo
Jaelan juga mengungkap bahwa sejak berdirinya SPPG (Sentra Penyediaan Pangan Gizi) di Wonosobo pada 13 Januari 2025, Dinas Kesehatan telah melakukan sejumlah mitigasi risiko keamanan pangan dalam program MBG.
Langkah-langkah yang dilakukan antara lain:
- Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) untuk semua dapur SPPG sebelum operasional.
- Pemeriksaan sampel air dan makanan secara berkala.
- Pemberian Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
- Pelatihan penjamah pangan untuk memastikan standar pengolahan dan distribusi makanan sesuai protokol kesehatan.
Selain itu, Dinkes juga membentuk tim keamanan pangan di sekolah-sekolah. Sebelum makanan dibagikan, mereka melakukan uji organoleptik — melihat, mencium, merasakan tekstur, dan mencicipi.
Dengan langkah-langkah ini, Dinkes Wonosobo berupaya memastikan kualitas makanan yang diberikan kepada siswa agar tetap aman dan bergizi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar