Volatilitas Pasar Kripto, Dampaknya pada Bursa Aset Digital Lokal

Kondisi Pasar Kripto yang Masih Bergejolak

Pasar kripto saat ini masih menghadapi volatilitas tinggi yang memengaruhi pergerakan harga aset kripto, terutama altcoin. Hal ini membuat bursa aset kripto PT Central Finansial X (CFX) memberikan pernyataan resmi terkait situasi yang sedang berlangsung.

Direktur Utama CFX, Subani, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada kepastian apakah pasar kripto telah mencapai titik terendah. Menurutnya, dari sisi teknikal, sangat sulit untuk memprediksi kapan fase bottom benar-benar terjadi. Ia menjelaskan bahwa variabel di pasar terlalu banyak sehingga sulit diprediksi secara absolut. Jika ditanya apakah pasar masih bisa turun atau tidak, kemungkinannya selalu ada.

Subani menekankan bahwa aset kripto seperti instrumen investasi lain memiliki risiko dan fluktuasi harga adalah bagian dari naturenya. Tekanan paling besar terjadi di pasar altcoin, dimana tekanan jual dinilai mencapai level paling ekstrem dalam lima tahun terakhir. Data kumulatif buy/sell difference menunjukkan arus jual bersih terus menumpuk di pasar spot exchange terpusat.

Menurut data yang dikutip dari Tokocrypto, sebanyak US$ 209 miliar tercatat keluar dari pasar altcoin selama 13 bulan terakhir. Kondisi ini kontras dengan Januari 2025, ketika permintaan masih relatif seimbang dan indikator yang sama berada di kisaran mendekati nol.

Subani menilai bahwa untuk altcoin, tidak ada satu indikator tunggal yang bisa dijadikan patokan pasti untuk menentukan titik terendah. Indikator pasar bersifat dinamis dan bergerak seiring perubahan harga. Ia juga menekankan peran faktor eksternal, khususnya kebijakan makroekonomi global, yang turut memicu koreksi di berbagai aset kripto dalam beberapa waktu terakhir.

Di tengah kondisi tersebut, CFX mendorong konsumen untuk lebih fokus pada manajemen risiko. Investor diimbau melakukan "do your own research" dan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi. Sebagai alternatif, CFX menghadirkan produk kontrak perpetual derivative yang memungkinkan konsumen melakukan lindung nilai, sehingga tetap dapat bertransaksi baik saat pasar naik maupun turun.

Terkait dampak penurunan harga terhadap aktivitas perdagangan, CFX mencatat volume transaksi harian sejak awal tahun hingga Senin (23/2) memang cenderung menurun, namun masih berada dalam kategori stabil. Penurunan volume tidak sedalam koreksi harga aset kripto.

Menurut Subani, kondisi ini mencerminkan kedewasaan investor kripto di dalam negeri. Aktivitas pasar dinilai masih cukup tinggi dan likuiditas tetap terjaga. Selama periode tersebut, Tether (USDT), Bitcoin (BTC), dan Ethereum (ETH) menjadi aset kripto dengan nilai transaksi terbesar di bursa CFX.

Sebagai dukungan terhadap industri aset kripto nasional, CFX juga akan menurunkan biaya transaksi bursa sebesar 50%, dari 4 basis poin menjadi 2 basis poin, efektif mulai Maret 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan struktur biaya yang lebih kompetitif sekaligus mendorong peningkatan likuiditas dan perluasan pangsa pasar kripto di Indonesia.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan