
JAKARTA, aiotrade
Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo atau Jokowi menyampaikan pandangan mengenai ekonomi kecerdasan. Ia menjelaskan bahwa saat ini Indonesia berada di era ekonomi digital. Selanjutnya, kata dia, Indonesia memasuki era baru yang disebut sebagai ekonomi kecerdasan yang melibatkan Artificial Intelligence atau AI.
"Kita ini berada di era sekarang ini digital economy (ekonomi digital). Kemudian kita akan masuk lagi ke era yang lebih baru lagi, yang namanya ekonomi kecerdasan, intelligence economy," ujar Jokowi dalam wawancara eksklusif dengan KompasTV di Program Khusus yang tayang pada Selasa (9/12/2025) malam.
Ia menambahkan bahwa ekonomi kecerdasan adalah sistem di mana data dan informasi dikumpulkan, diolah oleh AI, kemudian dianalisa dan menghasilkan keputusan yang tepat dan akurat. Menurut Jokowi, seluruh sendi kegiatan masyarakat Indonesia akan terkait dengan elemen-elemen yang ada di AI.
"Sehingga sekali lagi, kita harus siap menghadapi era baru ini, yaitu era intelligence economy, era ekonomi kecerdasan," tambahnya.
Ketika ditanya mengenai perbedaan antara ekonomi kecerdasan dan ekonomi digital, Jokowi menjelaskan bahwa perbedaan utama terletak pada pengolahan data. Pengolahan data oleh artificial intelligence bisa langsung menghasilkan keputusan yang tepat dan akurat karena semuanya diolah oleh AI dan real time.
"Pengolahan data oleh artificial intelligence itu bisa langsung menghasilkan sebuah keputusan yang tepat dan akurat, karena semuanya diolah oleh AI dan real time, itu yang membedakan," jelasnya.
Menurut Jokowi, pembangunan infrastruktur fisik dan digital Indonesia sudah siap untuk menghadapi era ekonomi kecerdasan tersebut. Namun, ia juga menekankan pentingnya persiapan sumber daya manusia (SDM) karena persaingan dengan negara lain sangat ketat.
"SDM, itu yang harus disiapkan, kemudian dikenalkan, kemudian dilatih, harus ada training-training (pelatihan) mengenai pengenalan AI, mengenai coding, mengenai algoritma, mengenai machine learning," ujarnya.
Jokowi menyebut pelatihan atau training akan meningkatkan literasi digital dan kemampuan, yang pada akhirnya bisa membuka lapangan pekerjaan. "Karena akan dibutuhkan tenaga-tenaga untuk pekerja-pekerja profesional di bidang digital, tenaga-tenaga profesional untuk AI, operator AI, manajemen AI," katanya.
Selain itu, Jokowi juga menyebut adanya kebutuhan tenaga ahli untuk humanoid robotic dan software engineer. "Saya kira banyak sekali lapangan pekerjaan yang akan terbuka. Tetapi dengan catatan kita memiliki digital literasi yang baik mengenai AI, coding, algoritma, machine learning," pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar