Saham Raksasa Tumbang Saat IHSG Naik, Lihat Rekomendasi Analis

admin.aiotrade 30 Sep 2025 3 menit 13x dilihat
Saham Raksasa Tumbang Saat IHSG Naik, Lihat Rekomendasi Analis
Featured Image

Saatnya Mempertimbangkan Saham Laggard di Kuartal IV-2025

Di tengah dinamika pasar modal yang terus berubah, sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) masih mengalami penurunan signifikan. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menunjukkan penguatan beberapa kali, banyak saham-saham utama tetap terpuruk dan menjadi pemberat indeks.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), beberapa saham laggard pada tahun 2025 antara lain:

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
  • BBCA turun 21,19% ytd ke Rp 7.625/saham dengan kontribusi negatif sebesar -139,47 poin ke IHSG.
  • BMRI melemah 22,81% ytd ke Rp 4.400/saham dengan pengaruh negatif sebesar -114,99 poin.
  • AMMN merosot 14,75% ytd ke Rp 7.225/saham dengan kontribusi -40,52 poin.
  • AMRT anjlok 32,28% ytd ke Rp 1.930/saham, memberi dampak negatif sebesar -40,08 poin.
  • GOTO amblas 22,86% ytd ke Rp 54/saham dengan pengaruh -34,13 poin.

Selain itu, saham-saham seperti BYAN, ADRO, BBRI, MAPA, dan ICBP juga masuk dalam daftar laggard. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap saham-saham besar tidak hanya datang dari satu sektor saja, melainkan dari berbagai bidang ekonomi.

Faktor Pemicu Penurunan Saham Laggard

Menurut Praska Putrantyo, CEO Edvisor Provina Visindo, beberapa sentimen sektoral menjadi pemicu penurunan saham-saham tersebut. Di sektor perbankan, misalnya, penyaluran kredit yang lesu serta penurunan NIM (Net Interest Margin) memberikan tekanan. Selain itu, arus keluar asing yang masih deras juga memengaruhi kinerja saham perbankan.

Sementara itu, sektor pertambangan menghadapi tekanan karena harga batubara yang melemah akibat permintaan China yang belum pulih. Investor mulai beralih ke emas dan energi terbarukan sebagai alternatif investasi.

Di sektor konsumsi, daya beli masyarakat yang belum pulih turut memberatkan saham-saham seperti AMRT, MAPA, dan ICBP. Tekanan arus keluar asing juga berdampak pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan, karena pelaku pasar masih menunggu dan melihat situasi perekonomian serta arah suku bunga Indonesia.

Prediksi Perkembangan di Kuartal IV-2025

Harry Su dari Samuel Sekuritas menyatakan bahwa tekanan terbesar datang dari capital outflow investor asing yang khawatir terhadap prospek margin perbankan. Namun, ia percaya bahwa harga saham-saham laggard bisa membaik pada kuartal IV-2025 sejalan dengan efek pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Meski begitu, penguatannya cenderung terbatas karena permintaan kredit masih lemah dan risiko kualitas aset tetap tinggi. Dengan demikian, pemulihan harga saham laggard sangat bergantung pada beberapa faktor, seperti:

  • Laporan keuangan kuartal III-2025.
  • Arah suku bunga.
  • Perkembangan daya beli masyarakat.

Peluang Rebound dan Rekomendasi Analis

Meski banyak saham laggard terpuruk, analis melihat adanya peluang rebound terbatas seiring potensi pemangkasan suku bunga BI. Bagi investor jeli, fase “terpuruk” bisa menjadi momentum masuk, asalkan selektif dalam memilih saham dengan fundamental kuat.

Praska Putrantyo merekomendasikan strategi buy on weakness untuk beberapa saham, seperti BBRI (target Rp 5.025), BBCA (Rp 8.900), dan BMRI (Rp 5.000). Sementara itu, Harry Su menyarankan fokus pada big caps defensif dengan fundamental solid, seperti BBCA, TLKM, ICBP, AMRT, dan JPFA.

Meski saat ini big caps kehilangan pamor dibandingkan saham-saham konglomerasi seperti DCII, BRPT, DSSA, dan CDIA yang justru menopang IHSG, bagi investor yang teliti, momen ini bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat portofolio dengan pilihan saham yang tepat.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan